Laporan Fiser Wakulu, Ternyata Ada Aktivis Penyu di Minahasa

Laporan Fiser Wakulu, Ternyata Ada Aktivis Penyu di Minahasa
Melky Kansil, seorang aktivis pecinta Penyu saat melakukan pelepasan Anak Penyu di Pantai Tulaun Kecamatan Kombi. Foto: Fiser Wakulu

Melky pun menilai, dibandingkan pemerintah, tamu-tamu dari luar negeri yang lebih peduli. “Jika minta bantuan ke pemerintah, birokrasinya ribet sekali. Kalau tamu-tamu yang datang, tanpa diminta mereka memberi bantuan. Dan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sangat perhatian dengan pelestarian Penyu di kawasan ini adalah Yayasan Masarang,” jelasnya.

Dari pembicaraan dengan wartawan media online ini,Melky Kansil menyelipkan pesan dan harapan mereka buat pemerintah. Harapanya sederhana, hanya perhatian dan keseriusan pemerintah untuk menjaga kelestarian Penyu.

Ia pun menjelaskan, ketika penyu menetas dari telur, butuh 20-30 tahun ke depan baru bisa berproduksi. Selain itu, ketika dilepas ke perairan bebas, tidak semuanya akan berhasil bertahan hidup karena harus berjuang sendiri karena tidak didampingi induknya. Tk jarang yang dimangsa peredator.

“Kami ini secara sukarela melestarikan penyu. Sebab, kalau bukan kami, lantas siapa lagi. Pemerintah saja tidak peduli,” pungkas lelaki ramah tersebut.

Informasi yang berhasil diperoleh wartawan media ini menunjukan kalau dari wilayah pantai Kamenti sampai di pesisir Rarumis, Penyu-Penyu yang naik ke pasir untuk bertelur masih dibantai, kemudian dibantai dan dimasak.

Bahkan,  ada pemburu Penyu yang menjualnya ke desa-desa kawasan Tondano Pante. “Daging penyu rasanya enak ketika sudah dimasak dan diolah menggunakan bumbu RW. Kadang ada juga tibo-tibo yang menjual daging penyu. Saat ini harganya 20 ribu per satu plastik cicak,” ujar penikmat daging penyu asal desa Tulap Kecamatan Kombi yang identisanya tidak ingin dipublikasikan.

Tak puas dengan keterangan narasumber sebelumnya, wartawan berusaha mencari tibo-tibo ikan yang pernah menjual daging Penyu. Akhirnya pencarian membuahkan hasil di salah satu desa wilayah Tondano Pante.

Menurut penuturan tobo-tibo tersebut, sebelum dipotong lehernya, penyu yang akan dimakan lebih dahulu harus dikupas cangkan bagian bawahnya.

“Penyu kalau salah potong, dagingnya akan berbau tidak sedap. Sebab itu, kebiasaan kami di sini, sebelum lehernya dipotong. Cangkang bagian bawahnya dikupas lebih dulu. Kalau tidak kuat, lebih baik jangan coba-coba menyembelih Penyu,” ujarnya.

“Saat cangkang bagian bawahnya dikupas, biasanya penyu mengeluarkan air mata,” ujar lelaki yang juga identitasnya tidak ingin diungkap ini.

Ia menambahkan, jika kebanyakan daging Penyu yang dijualnya, dibeli dari pemburu. “Saya bukan pemburu. Hanya menjual daging penyu yang saya beli dari pemburu. Kalau penyu besar, biasanya saya tebus dengan harga 500 ribu rupiah,” tutupnya.

(fiser wakulu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *