Tompasobaru, Fajarmanado.com – Perdagangan daging ekstrim kembali marak di pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Jangankan daging tikus, daging ular Patola pun ikut ‘banjir’ dijual.
“Di sini sudah lama sekali pedagang daging menjual daging ular Patola, jadi tidak asing lagi,” komentar Janny Lolowang di Pasar Tompasobaru kepada Fajarmanado.com, Kamis (22/12).
Harga per kilogram daging Patola ditawarkan dengan harga yang bervariasi di atas daging babi piaraan dan babi hutan. Yakni, Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilo.
Daging ular Patola itu, selain dibeli dari para pemburu hewan liar di hutan yang berada di kawasan gunung Lolombulan dan sekitarnya, juga dibeli dari pedagang daging yang didatangkan dari Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
Eceran daging Patola sering ditemukan di pasar-pasar lain, seperti di Manado dan Minahasa. Bahkan, di Langowan dan Kawangkoan banyak rumah makan khas yang menawarkan aneka menu daging ekstrim, termasuk Patola.
Menurut Lolowang, masyarakat Tompasobaru tidak pernah mempersoalkan asal usul daging Patola eceran, berbeda dengan daging tikus.
Pasalnya, kata dia, namanya ular, pasti hanya bisa berkembang biak dan hidup di hutan, sementara tikus banyak yang beranak beranak dan hidup di pemukiman penduduk dan rumah sakit.
“Makanya warga di sini tidak banyak bertanya dari mana ular Patola itu didapat kecuali melakukan tawar menawar,” ungkapnya.
Pemandangan sama, juga terlihat di Pasar Motoling. Sama halnya di Pasar Tompasobaru, harga per kilogram daging ular Patola di Motoling bervariasi antara Rp 35.000 sampai Rp 40.000.
Menariknya, ada satu kios di pasar ini yang menjual kuliner ekstrim ular Patola. “Laris sekali. Karena mungkin jarang tersedia, maka banyak masyarakat yang membeli. Ada yang makan di sini, banyak pula minta dibungkus dan dibawa pulang,” ungkap Sjeanet Pattyranie, ibu rumah tangga warga Motoling.
Di Pasar Tompasobaru dan Pasar Motoling tidak hanya menjelang Natal atau Tahun Baru 2017 saja muncul pedagang daging ular Patola. Meski tidak setiap pasar, namun ketika ada pasokan cukup banyak, pasti akan dijual di pasar-pasar.
“Barang ini memang cukup langka. Biasanya, pasokannya sedikit hanya laku dibeli masyarakat di rumah pedagang daging. Kalau banyak barulah dijual di pasar-pasar,” ujar salahsatu petugas Pasar Tompasobaru.
Pria yang enggan diungkap identitas jelasnya ini, mengatakan, penjualan daging ekstrim telah lama berlangsung di pasar-pasar wilayah Minsel. Jika stok berlimpah, terkadang pedagang membawanya dalam bentuk utuh tapi sudah mati.
Kuliner daging ekstrim, termasuk daging ular Patola memang ramai ditawarkan pedagang rumah makan di Tompasobaru dan Motoling selama ini.
Bupati Christiany Eugenia Paruntu, SE pun beberapa kali disuguhi menu khas ini ketika berkunjung ke dua kecamatan tersebut. Menariknya, bukannya risih dan merasa ngeri, bupati tercantik di Indonesia ini ternyata tak sungkan ikut mencicipi kuliner ular Patola.
(andries)