Langowan, Fajarmanado.com – Tidak terasa, peristiwa Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) sudah mencapai usia 60 tahun, semenjak piagam Permesta diproklamasikan pada 2 Maret 1957 di Makasar oleh Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawan.
Berkaitan dengan peringatan ke-60 tahun itu, sejumlah mantan tentara Permesta akan menggelar pertemuan nostalgia pada Kamis, 2 Maret 2017.
“Untuk para mantan Permesta di Sulut, kami akan mengadakan pertemuan di Tondano dan Langowan,” ujar Phil M. Sulu, salah satu pelaku Permesta kepada Fajarmanado.com, di Langowan, Selasa (28/02).
Wartawan senior yang juga penulis buku “PERMESTA, dalam Romantika, Kemelut dan Misteri” (terbitan Gramedia) ini, mengatakan, pertemuan nostalgia ini memang masih tetap dilakukan di setiap tahun.
“Dan di usia 60 tahun ini, para mantan Permesta diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan negara dan daerah,” ujar mantan Pemimpin Redaksi Obor Pancasila dan wartawan Majalah TEMPO ini.
Sementara itu, para mantan Permesta di Jakarta, rencananya akan mengadakan ziarah ke makam tokoh Permesta Ventje Sumual di pekuburan umum Menteng Pulomas.
Pelaku Permesta Bernad Tasik, yang dihubungi melalui telepon, mengungkapkan, setelah ziara ke makam Ventje Sumual, mereka akan mengadakan ibadah di rumah Ventje Sumual di Pulomas.
“Selesai ibadah, kami akan berbincang-bincang, baik bernostalgia, maupun membicarakan berbagai perkembangan di negara kita, termasuk masalah di DKI Jakarta,” ujar Bernad Tasik.
Ia menambahkan, sebetulnya para mantan Permesta sudah ada wadah perkumpulan resmi, yang dinamakan Perkumpulan Perjuangan Rakyat Semesta. Organisasi ini sudah mendapat legalitas dari Menkumham.
“Cuma belum berjalan sesuai dengan harapan, karena ada permasalahan internal berkaitan dengan kepengurusan Perkumpulan Permesta di Sulut. Masih terjadi tarik menarik mengenai pribadi-pribadi yang duduk dalam kepengurusan,” jelasnya.
Menurut Bernad Tasik, kekalahan Permesta, juga bukan karena kalah melawan musuh, tapi karena perebutan kekuasaan dan saling bunuh di antara Permesta sendiri.
“Akibatnya banyak tokoh-tokoh Permesta yang mati terbunuh oleh Permesta sendiri,” tuturnya dengan nada kesal.
(jeffry pay)