Yogyakarta, Fajarmanado.com – Tiga gadis belia asal Madiun, Jawa Timur ini tak pernah berpikir akan nginap di Gedung Agung Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Bermodalkan ongkos jalan Rp150 ribu, mereka hanya berniat berlibur akhir tahun 2017 di kota budaya ini.
Kesempatan emas ini berawal dari kebiasaan unik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mengisi liburan akhir tahun 2017 di Yoyakarta, Presiden Jokowi menggelar ‘open house’, makan malam bersama dan berserfie ria dengan pengunjung pada Minggu (31/12/2017), tadi malam.
Ada berbagai ekspresi masyarakat setelah berhasil berfoto bersama Presiden Jokowi. Ada yang mengucap syukur, tersenyum hingga berlari-lari kegirangan. ”Alhamdullilah Ya Allah, bisa foto bersama Presiden,” ucap Bunga, siswa kelas 12 dari Madiun.
Malam pergantian tahun 2017 ke 2018, Presiden meminta kepada Ajudan Kolonel Pnb. Mohammad Nurdin agar masyarakat yang berada di depan Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta diundang untuk santap malam. Tak hanya itu, warga yang menjadi undangan pun dapat berfoto bersama.
“Undang 70 orang untuk makan malam di sini (Istana Kepresidenan Yogyakarta),” ucap Presiden Jokowi. Namun, karena ramainya masyarakat yang berjubel di depan Gedung Agung, tidak kurang dari 250 orang yang dipersilahkan masuk.
Bunga dan dua temannya, Arin dan Hafsah, tiga remaja asal Madiun ini termasuk di antara mereka. Saat ditanyakan berasal dari mana, mereka bertiga dengan kompak menjawab, “Madiun.”
Bunga, Arin dan Hafsah tiba di Yogyakarta hanya bermodalkan ongkos Rp150 ribu setiap orangnya. Mereka datang hanya untuk liburan menjelang tahun baru.
“Enggak tahu kalau ada (Presiden Jokowi). Tahunya pas nanya orang ‘ini kenapa kok ramai?’ Terus orangnya jawab ‘ada Pak Jokowi kalau mau foto sana. Antre dulu tapi’. Kita lalu antre sabar. Sampai desak-desakan dan diinjak kakinya,” ucap Arin.
Berangkat dari Madiun pukul delapan pagi dan tiba di Yogyakarta pukul satu siang, mereka menumpang mandi di sebuah rumah sakit setelah sempat berkeliling. “Tadi mandinya di rumah sakit belakang sini,” ucap Hafsah.
Saat ditanya bagaimana perasaannya bisa berfoto bersama Presiden. “Senang, deg-degan, rasanya enggak percaya, kayak mimpi,” ucap Bunga.
Saat berfoto bersama Presiden, ke tiga remaja ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan cita-cita mereka. “Minta doa, kan mau masuk UN (Ujian Nasional) eh universitas. Mau masuk UGM (Universitas Gadjah Mada),” kata Bunga.
Mereka mengungkapkan memilih UGM karena Presiden berasal dari universitas tersebut. Saat ditanya respons Presiden mengenai cita-cita mereka. “Aamiin…aamiin kata Pak Jokowi,” kata Arin.
Setelah berfoto bersama, Hafsah sempat menelepon ibunya. “Iya udah tadi ditelepon. Langsung bilang. Ini sampai nangis. Senang terharu,” katanya.
Dalam santap malam tersebut, mereka menikmati satai ayam dan teh hangat. Tak lupa, ketiga gadis itu juga menyampaikan harapannya kepada Presiden Jokowi.
“Semoga makin maju, makin jaya, program kerja terlaksana dengan baik,” ucap mereka.
Mereka bertiga bukan berasal dari satu sekolah yang sama, tapi mereka tinggal berdekatan. “Kita ini tetangga, jadi kawan dari kecil,” ucap mereka kompak.
Setelah dari Gedung Agung ke tiga gadis asal Madiun ini kemudian berkeliling hingga pergantian tahun dan rencananya baru akan kembali ke Madiun Senin, 1 Januari 2018. “Ya dimana saja. Masjid bisa, yang penting nanti istirahat,” ucap Hafsah ketika ditanya akan menginap dimana.
Mendengar kabar ini, Presiden Jokowi langsung memerintahkan Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta ,Saifulah agar menginapkan mereka di Istana.
“Hubungi mereka dan siapkan kamar untuk mereka menginap,” ucap Presiden.
Akhirnya, Senin, sekitar pukul 00.30 WIB, dini pagi tadi, mereka bertiga kembali ke Gedung Agung setelah berhasil dihubungi melalui telepon.
Sebenarnya mereka tidak tahu, untuk apa kembali ke Gedung Agung. “Saat diminta identitas di ruang piket, kok mengisi keperluan menginap,” ucap Arin.
Setelah ditunjukkan kamarnya di kamar 004, Wisma Negara, mereka pun masih belum percaya. “Kewel (bergetar),” ucap Hafsah.
Arin, siswa SMA Negeri 5 Madiun adalah anak pengemudi becak dan ibunya adalah ibu rumah tangga, sementara Bunga, siswa SMA Negeri 6 Madiun, ibunya telah tiada dan ayahnya bekerja sebagai montir. Hafsah, siswa SMK Negeri 3 Madiun, ayahnya di Cirebon berjualan batu alam dan ibunya adalah ibu rumah tangga.
Editor : Herly Umbas