Disaksikan Wabup VaSung, Pawai Pembangunan Kawangkoan Raya Tersaji Meriah

Warga: Masih Ada yang Perlu Dievaluasi Agar Lebih Tertib

FajarManado.News, Kawangkoan — Pawai pembangunan Kawangkoan raya dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesi (HUT RI) ke–81 berlangsung meriah, Selasa, 18 Agustus 2026.

Di gelar bersama kedua kalinya oleh tiga kecamatan, yakni Kawangkoan, Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini, pawai yang diikuti 20 desa dan 10 kelurahan tersebut kembali disaksikan Wakil Bupati Vanda Sarundajang, SS, MAP, empat anggota DPRD Minahasa, bersama empat pejabat eselon II dan satu eselon III, yang semuanya warga Kawangkoan raya.

Empat anggota dewan itu, adalah Drs Dharma Palar, Stvri Tenda, Frelly Lolowang dan Ivana Wuwungan, SE.

Sementara para pejabat eselon II dan III, yang hadir dan juga duduk di kursi panggung penghormatan, berturut-turut, Sekretaris DPRD Minahasa, Fabian DK Mendur, SPt, MM, Kadis Sosial dr Maya Rambitan, MKes, Kadis Komimfo Recky Laloan, SH dan Kabag Hubungan Antarlembaga, Ir Ritha “Lusye” Lapian.

Start dilepas Camat Fenti Thelma Lapian, SE, Camat Heppy Lumintang, SH dan Camat Stenly David Umboh, SSTP, MAP di Stadion Dr Sinyo Harry Sarundajang (SHS) dan finish di depan Taman Kota Kawangkoan, kompleks Pusat Kota Kuliner ini, berbagai potensi sumber daya alam, seni budaya dan usaha-usaha kecil rumahan khas masyarakat setempat “dipamerkan” di atas mobil maupun roda sapi yang mengikuti arak-arakan pawai.

Yang dipamerkan itu, mulai dari kancang sangrai sampai rumah panggung.

Desa-desa yang berjumlah 20 terpantau “unjuk gigi” menunjukkan potensi masing-masing. Tidak hanya mengerahkan massa, tetapi juga peesonifikasi potensi masing-masing. Semisal  Desa Ranolambat dengan industri captikus dan saledo yang telah mengatongi izin resmi.

Sementara 10 kelurahan di kawasan pusat “Kota Kecil” Kawangkoan, yang masuk wilayah Kecamatan Kawangkoan dan Kawangkoan Utara, tampil seadanya.

Kebanyakan kelurahan hanya menyertakan barisan perangkat desa dan lingkungan dengan sedikit warga, tanpa menonjolkan potensi masing-masing. Kecuali, Talikuran Utara yang dimeriahkan oleh arakan 11 usaha Gloria Grup.

Panggung di Samping Kiri

Pawai pembangunan kali ini mendapat respon besar masyarakat. Jumlah peserta yang mendaftar kabarnya jauh lebih banyak prediksi sehingga panitia memangkas route pawai.

Kebijakan ini, akhirnya  panggung penghormatan tidak lagi berada di samping kanan, tapi di kiri peserta ketika memasuki finish.

“Ini kosekwensi route pawai yang secara tiba-tiba diperpendek oleh panitia, tidak seperti yang dirancang dan disosialisasikan sebelumnya. Ya, akhirnya hormat kiri, bukan hormat kanan,” komentar salahsatu pimpinan peserta pawai.

Para peserta pawai tersebut, bukan hanya 30 desa/kelurahan, tetapi juga ada unsur gereja, lembaga keuangan, sosial dan komunitas masyarakat lainnya.

Namun begitu, pantauan FajarManado.News,  meskipun peserta jauh membludak, pawai yang diawali Paakibraka Kawangkoan Raya ini hanya berlangsung sekira 8,5 jam lebih.

Start sekira pukul 09.30 Wita, berakhir pada pukul 17.11 Wita yang ditandai ucapan terima kasih Ketua Panitia Pelaksana, Jemmy Suak, SE.

Fakta ini beda dengan pelaksanaan Pawai Pembangunan Kawangkoan Bersatu secara perdana pada HUT RI ke–80 tahun 2025 lalu.

Gegara digabung dengan pawai pembangunan anak sekolah, SD–SMA pada hari dan tanggal yang sama, 18 Agustus 2025, maka baru pawai pembangunan gersebut baru berakhir sekitar pukul 10.30 Wita, malam itu.

“Fatalnya, tahun lalu panitia tidak menyediakan lampu di panggung penghormatan,” ujar Stefan Supit, SH, tokoh masyarakat Kawangkoan.

Masih Perlu Evaluasi

Meski berakhir sore hari, namun ada catatan yang patut dievaluasi untuk  diperbaiki panitia HUT RI Kawangkoan Bersatu tahun 2027 mendatang.

Yang cukup krusial adalah penertiban route pawai. Baik pawai pembangunan lembaga pendidikan pada pekan lalu dan pawai umum, Selasa, 18 Agustus, hari ini.

Disamping masih ada kendaraan bukan peserta pawai “menyusup” dalam iring-iringan pawai, ada pula kendaraan yang lolos menerobos dari arah berlawanan.

“Saya melihat, rekayasa lalu lintas tidak dianalisa secara matang dan petugas keamanan yang menjaga di setiap persimpangan jalan relatif kurang,” komentar tokoh masyarakat lainnya.

Sementara komunitas keamanan gereja, seperti Panji Yosua GMIM dan Perisai KGPM mengaku diundang terlibat dalam pengamanan.

“Kami memang diminta panitia membantu jaga keamanan, tapi hanya dibatasi lima orang,” komentar Piks Pantouw, pimpinan Panji Yosua GMIM Sentrum Sendangan saat menonton keramaian pawai di komplek panggung penghormatan.

[Herly Umbas]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *