Pada jam 21.30, saat apel malam, kelompok pencinta RI itu mulai mempersiapkan diri. Mereka terdiri dari Wakil Komandan Regu I Mambi Runtukahu, Wadanru II Gerson Andris, Wadanru III Mas Sitam, Komandan Verkenner Jus Kotambunan, Anggota Regu IV Lengkong Item dan Verkenner Wehantouw.
Sekitar pukul 24.00, Sersan Piket Sutarkun menginformasikan agar seluruh anggota yang masih di berbincang di luar asrama masuk tidur karena Komandan Kompi VII Letnan Carlier dan Komandan Peleton Serma Wijszer akan mengadakan pemeriksaan malam. Di dalam asrama, kedua tentara Belanda itu menemukan, seluruh anggota Kompi VII sudah lelap tidur.
Tepat pukul 00.30 (14 Februari), seluruh anggota kelompok yang mempersiapkan aksi militer itu memeriksa persiapan akhir. Pukul 00.45, kembali seluruh anggota aksi berkumpul dan menyatukan tekad, masing-masing menyatakan siap mempertaruhkan nyawa bagi RI.
15 menit kemudian, pas pukul 01.00, di saat sepi dan tenang, pergerakan dimulai. Pasukan menuju tangsi putih dalam formasi huruf “L”.
Sebagian pasukan dipimpin Runtukahu dan Kotambunan keluar dari pintu kiri, sedangkan Andris dan Sitam memimpin pasukan keluar dari pintu kanan.
Mereka muncul satu demi satu di depan pos jaga dengan senjata terkokang tanpa peluru karena telah disita sebelumnya atas perintah atasan mereka.
Pasukan Runtukahu menaklukkan pos jaga dan sekaligus membebaskan pemimpin aksi, Ch Ch Taulu dan Wuisan, rekannya, yang ditangkap beberapa hari sebelumnya.
Di tangsi putih, para pejuang yang terdiri dari Kotambunan, Sitam dan Lantu menangkap Komandan Peleton I Wijszer dan Komandan Kompi Carlier serta Komandan CPM Belanda.
Dalam perjalanan menuju tangsi hitam, pasukan pejuang dihadang peleton KNIL yang setia kepada Belanda, tetapi dengan kemahiran menyerbu, pasukan pro Belanda itu berhasil ditaklukkan.
Pasukan pejuang lalu menguasai seluruh tangsi militer Teling dan berhasil menangkap seluruh pimpinan militer yang tinggal di luar tangsi. Juga membebaskan teman-temannya yang sempat ditahan di penjara Manado, seperti Freddy Lumanauw dan Pakasi.
Pukul 03.00, sementara aksi berlangsung, Wangko Sumanti memerintahkan perobekan helai biru dari bendera Belanda dan menyerahkan kepada Mambi Runtukahu yang selanjutnya bertindak sebagai inspektur upacara penaikan Sang Saka Merah Putih.
Kantor Telepon sejak aksi dimulai dikuasai pegawai yang pro Indonesia seperti No Tooy, G Sumendap serta beberapa staf lain. Selain itu kelompok pejuang menguasai kantor Dinas Telegrafi Manado.
Selanjutnya Klik 4>>>