Sedikitnya, sudah tiga periode pelayanan GMIM, masalah UKIT belum juga selesai. Di masa periode pelayanan di bawah kepemimpinan Ketua Sinode Pdt. Dr. Albert Obednego Supit, UKIT mulai menjadi bibit perpecahan di tubuh GMIM.
Kemudian di masa kepemimpinan Ketua Sinode Pdt. Piet Tampi, STh, MSi, upaya-upaya penyelesaian pun tidak membuahkan hasil positif. Begitu pula di masa kepemimpinan ketua Sinode Pdt Dr Henny WB Sumakul saat ini, juga belum ada tanda-tanda berakhirnya perseteruan. Meskipun Pdt Sumakul di awal-awal kepemimpinannya sudah mengupayakan rekonsiliasi (perdamaian) dan reunifikasi (penyatuan) UKIT.
Masalah UKIT inilah yang menjadi tolok ukur, siapa sebetulnya yang paling tepat menjadi Ketua Sinode GMIM yang baru. Tolok ukur itu adalah, seorang calon ketua Sinode GMIM yang baru nanti, harus bisa menyelesaikan masalah dualisme UKIT yang berlarut-larut ini.
Persoalan UKIT memang menjadi isu sensistif menjelang pemilihan ketua Sinode dan pimpinan BPMS. Hal ini terlihat dari sikap dua dari empat calon yang disebut-sebut, yaitu Pdt Hein Arina dan Pdt Henry Runtuwene. Keduanya selama ini cukup akrab berbicara dengan wartawan. Namun ketika keduanya dihubungi, terkesan menghindar, untuk membicarakan mengenai suksesi GMIM maupun masalah UKIT.
Sebagaimana diketahui, UKIT YPTK yang dipimpin Rektor Dr Richard Siwu, PhD tetap berdiri berdasarkan keputusan Mahkamah Agung. Sementara UKIT Yayasan Wenas pun tetap beroperasi sebagai perguruan tinggi yang mendapat dukungan dari BPMS.
UKIT Yayasan Wenas saat ini juga mengalami persoalan internal, sehubungan dengan pergantian pelaksana tugas rektor, dari Plt Jopie Pangemanan kepada Plt yang baru Dr Sandra Korua.
(jeffry)