Remboken, Fajarmanado.com – Walikota Maximiliaan Jonas Lomban, SE, MSi tampil memukau di depan ratusan civitas IPDN Kampus Sulut ketika memberikan ceramah umum di Gedung Utama IPDN Tampusu, Remboken, Minahasa.
Lomban menyatakan masyarakat Kota Bitung sudah banyak dibekali untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Berbagai langkah inovatif telah dilakukan Pemkot Bitung sejak beberapa tahun lalu.
“Dalam era AEC (Asean Economic Community) atau lebih kita kenal dengan MEA ini, membuka peluang pertumbuhan investasi tapi juga menciptakan tantangan, khususnya kesiapan masyarakat,” kata mantan birokrat, yang pensiun dengan pangkat golongan IV/E, tertinggi di PNS/ASN ini, Sabtu (3/12).
Setidaknya ada 8 tantangan skill profesi yang harus dipersiapkan dan dibekali kepada masyarakat di era persaingan bebas ini agar tidak tersingkir oleh kehadiran tenaga asing. Yakni, tenaga insinyur, arsitek, akuntan, tenaga pariwisata, dokter gigi, tenaga survey, perawat dan praktisi media.
“Pemerintah Kota Bitung telah mempersiapkan semua itu sejak beberapa tahun lalu,” ujar mantan wakil walikota, yang terpilih kembali menjadi Walikota Bitung periode 2015-2020 ini.
Kota Bitung, katanya, merupakan kota multy dimensi, baik sebagai kota industri, perdagangan dan jasa maupun kota pelabuhan sehingga ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Berada pada lokasi strategis sebagai pusat pertumbuhan distribusi barang dan jasa, maka menunjang Kota Bitung menjadi penyediaan logistik di Kawasan Timur Indonesia karena memiliki akses Internasional, khususnya ke BIMP-EAGA, AIDA, Asia Timur dan Pasifik. Selain itu, dermaga pelabuhan Bitung juga bisa disandari oleh kapal-kapal container dan tanker.
Di sektor bisnis, Kota Bitung memiliki sejumlah industri prosesing dan pengalengan ikan, industri pengolahan ekspor, industri farmasi, dan industri logistik sehingga dibangun pelabuhan global hub dengan kapasitas 500.000 TEUs/tahun dan akan di tingkatkan menjadi 1.000.000 TEUs/tahun dengan kedalaman laut sekitar 22m.
“Jarak lokasi pelabuhan Global Hub Bitung dengan KEK sekitar 5 km, berada pada ruas jalan nasional Girian – Kema yang terhubung ke jalan nasional Manado – Bitung dan Jalan Tol Manado – Bitung yang sementara dibangun agar keduanya terintegrasi,” jelas walikota yang telah mencacat sejumlah prestasi nasional dan internasional ini.
Sedangkan suplai listrik ke lokasi KEK, jelas Lomban, berasal dari GI Tanjung Merah yang terintegrasi dengan jaringan interkoneksi Gorontalo – Sulut dengan daya terpasang sebesar 150 MW.
“Bagian terbesar menggunakan sumber listrik terbarukan, seperti Geothermal dan Hydro,” ujarnya, sambil mengatakan bahwa ketersediaan suplai listrik ini ikut menjadi daya tarik investor masuk Bitung selama ini.
Sebagaimana listrik, Bitung pun memiliki sumber air baku yang cukup. Itu disuplai dari mata air Tendeki yang memiliki kapasitas 40L/detik dengan jarak sekitar 7,2 km dan sungai Pinokalan yang masih memiliki ketersediaan kapasitas 100L/detik dengan jarak 4km dan suplai dari Bendungan Kuwil – Sawangan.
“Untuk telekomunikasi, didukung dengan jaringan fiber optic,” jelas Lomban.
Peluang MEA telah ditangkap Pemkot Bitung dengan menggelar Pesona Selat Lembeh 2016, yang berhasil menggaet ribuan turis mancanegara dan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat melalui usaha kuliner dan cenderamata khas Kota Bitung.
Ceramah umum Lomban yang membuat ratusan praja terus tertegun itu, diawali dengan perkenalan yang disampaikan oleh Direktur IPDN Kampus Sulut Dr. Bernhard E. Rondonuwu, S.Sos, MSi, yang juga bekas ASN Kota Bitung ini.
Pada kesempatan itu, Kasat Manggala IPDN Kombespol Drs. M. Zakhlin Leter, SH dan Kasat Pelatihan IPDN Kombespol Drs. Yohanes Prapto, MM juga tampil berbarengan memberikan Kuliah Umum tentang Konsep Birokrasi kepada ratusan praja IPDN Kampus Sulut di tempat yang sama.
(ely)