Berdoa Demi UKIT, 4 Mahasiswa Sempat ‘Diamankan’ Polisi

Tomohon, Fajarmanado.com — Meski mulai kondusif, namun persoalan yang melilit Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)  ternyata masih juga digumuli mahasiswanya. Doa semalam suntuk pun digelar ratusan mahasiswa di Kantor Sinode GMIM, Kota Tomohon, Jumat (29/09/2017), tadi malam.

Doa bersama ini dilakukan dalam  bentuk kepedulian dan pergumulan mahasiswa agar persoalan rektorat UKIT yang dipicu dualisme kepemimpinan ini bisa diselesaikan sesuai petunjuk Menristek Dikti dan regulasi yang berlaku.

Pasca mediasi Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE, pengurus Yayasan AZR Wenas, yayasan yang menaungi UKIT ini, membuka pendaftaran calon Rektor baru. Namun, pemilihan tidak tuntas dilaksanakan pada Kamis (28/09/2017) lalu dan dinyatakan ditunda.

Kabar yang dirangkum Fajarmanado.com, penundaan pemilihan rektor tersebut dilakukan panitia karena ada upaya campur tangan dari oknum-oknum petinggi BPMS GMIM untuk menunjuk langsung rektor baru.

“Kami bangga dengan Sekretaris Yayasan AZR yang bersikukuh tidak mau diintervensi pihak manapun sehingga tidak setuju kalau rektor hanya ditunjuk,” ujar  mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.

Persoalan ini pun terungkap dalam pengantar Doa Semalam Suntuk yang digelar mulai pukul 21.30 Wita, tadi malam.

Tak beberapa lama berselang, tiba- tiba sejumlah orang yang diketahui sebagai polisi masuk dan langsung menghampiri kemudian mengamankan empat orang mahasiswa. Mereka adalah Jimmy Lapian, Berens Turang, Yoppy Sukukie dan Natalia Mait.

”Kami sedang menyanyi dan berdoa, tiba-tiba polisi masuk dan mengamankan empat orang mahasiswa teman kami. Kami tidak tau dan polisi langsung saja menyeret mereka,” kata Sekjen BEM UKIT Tomohon Valdo Woruntu.

Menurutnya, tujuan kegiatan ini adalah baik. ”Kami mahasiswa sangat peduli dengan masalah yang melilit kampus kami UKIT. Saya juga tidak tau kenapa teman saya di amankan petugas padahal kita semua disini tidak melakukan perusakan atau tindakan anarki,” papar Woruntu.

Menyadari teman mereka ‘diamankan’ polisi, ratusan mahasiswa tetap melanjutkan kegiatan doa bersama. Pergumulan lewat doa ini baru dihentikan ketika ke empat mahasiswa tersebut diantar kembali polisi bergabung dengan rekan-rekannya.

Menjelang tengah malam, ratusan mahasiswa tersebut membubarkan diri dan dengan tenang meninggalkan gedung Sinode GMIM di bawah pantauan petugas.

Penulis : Prokla Mambo

Editor    :  Herly Umbas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *