Apresiasi Soal Usia Relawan MBG, HBL Harap BGN Jadi Contoh Kementerian Lain

Dr Hillary Brigitta Lasut, SH, LLM

FajarManado.News, Jakarta–Gayung bersambut! Anggota DPR RI, Dr Hillary Brigitta Lasut, SH, LLM (HBL) mengpresiasi keputusan Badan Gizi Nasional soal usia relawan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari maksimal 50 tahun menjadi tidak terbatas asalkan dalam kondisi sehat.

Legislator Fraksi Partai Demokrat dari Dapil Sulawesi Utara ini menilai keputusan yang disampaikan Kepala BGN Dadan Hindayana pada 7 Mei 2026 tersebut  menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat kecil sekaligus menjadi langkah nyata dalam menciptakan kesempatan kerja yang lebih inklusif.

HBL menyebut kebijakan tanpa batas usia maksimal selama relawan dalam kondisi sehat merupakan keputusan yang manusiawi dan berpihak pada kebutuhan masyarakat di daerah.

“Saya sangat mengapresiasi respons cepat Kepala BGN yang langsung mengevaluasi dan membatalkan pembatasan usia 50 tahun bagi relawan dapur MBG. Ini menunjukkan pemerintah hadir dan mau mendengar suara masyarakat,” ujar HBL kepada awak media di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

HBL mengatakan, banyak warga desa menggantungkan harapan ekonomi dari keterlibatan mereka dalam program MBG. Karena itu, pembatasan usia yang terlalu kaku justru berpotensi menutup akses penghasilan bagi masyarakat yang masih produktif dan sehat.

“Kalau aturan batas usia 50 tahun itu tetap diterapkan, saya melihat akan ada banyak masyarakat desa yang kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan tambahan,” kata anggota termuda DPR RI 2019–2024 itu.

“Jangan dilihat dari nominalnya saja, karena bagi keluarga di daerah, pendapatan sebagai relawan MBG sangat membantu kebutuhan sehari-hari, mulai dari belanja rumah tangga sampai biaya sekolah anak. Selama mereka sehat, kuat bekerja, dan punya semangat membantu program pemerintah, saya rasa mereka tetap layak diberi ruang untuk berkontribusi,” jelas Hillary, sapaan karib ibu satu putri ini.

Paradigma Dunia Kerja

Hillary menegaskan bahwa paradigma dunia kerja modern saat ini telah mengalami perubahan besar, di mana produktivitas seseorang tidak lagi ditentukan oleh usia semata.

Menurutnya, banyak negara maju telah menerapkan sistem kerja yang lebih terbuka dengan menempatkan kualitas, pengalaman, dan kondisi kesehatan sebagai indikator utama dalam menilai kelayakan seseorang untuk tetap aktif bekerja.

“Di banyak negara maju, kesempatan untuk bekerja maupun terlibat dalam kegiatan sosial tidak dibatasi semata-mata oleh usia,” ucapnya.

Yang dilihat, lanjut dia, adalah apakah seseorang masih sehat, memiliki kemampuan, pengalaman, dan kemauan untuk bekerja dengan baik.

“Saya melihat keputusan Kepala BGN ini sebagai langkah positif karena Indonesia mulai bergerak menuju sistem yang lebih inklusif, adil, dan menghargai produktivitas masyarakat tanpa diskriminasi umur,” tegas Hillary.

Hillary juga berharap kebijakan penghapusan batas usia relawan dapur MBG tidak berhenti sebagai keputusan sementara, melainkan menjadi pijakan baru dalam penyusunan program-program sosial pemerintah ke depan.

Dikatakan, masyarakat berusia senior yang masih sehat memiliki pengalaman dan etos kerja yang justru dapat memperkuat pelaksanaan program pelayanan publik di lapangan.

Ia menyarankan pemerintah harus mulai melihat usia senior produktif sebagai kekuatan, bukan hambatan. Banyak masyarakat berumur di atas 50 tahun yang masih aktif, disiplin, dan punya semangat kerja tinggi.

“Saya berharap langkah BGN ini bisa menjadi contoh bagi kementerian dan lembaga lain agar tidak mudah menutup kesempatan hanya karena faktor usia. Selama seseorang sehat, mampu bekerja, dan mau berkontribusi, maka negara wajib membuka ruang yang sama bagi mereka,” pungkas Hillary.

[pe**/heru]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *