Amurang, Fajarmanado.com – Kepala Badan Pusat Statistik Minahasa Selatan (BPS Minsel), Didi Terok, SE mengatakan, daerah ini masih mengoleksi 6.609 orang menggangur.
Namun jika dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) makak menilai angka tersebut tergolong kecil tapi harus tetap disikapi dengan melakukan berbagai terobosan penciptaan lapangan kerja dan pemberian modal kerja.
“Persoalannya, sebagian besar dari warga yang masih mengganggur ini adalah lulusan SMA dan SMK sederajat, yang tentu memiliki pengetahuan yang cukup,” ujarnya.
Menurut Terok, jumlah warga yang sudah memiliki pekerjaan sebanyak 96.420. Angka diatas sesuai data BPS Minsel. Hanya saja, cukup meresahkan karena sebagian besar adalah lulusan SMA/SMK dan sederaajat.
Berdasarkan data BPS, katanya, angka pengangguran usia SMA ini jauh lebih banyak dari angka usia SMP putus sekolah atau tidak bekerja yang hanya berjumlah 369 dan perguruan tinggi yang belum memiki pekerjaan yang terdata sebanyak 319 orang.
Dikatakan, angka pengangguran yang terdata ini baru kategori terbuka. Diperkirakan yang masuk kategori tertutup dapat lebih banyak. “Ini menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah daerah untuk menciptakan lapangan kerja baru,” katanya.
Untuk menekan angka pengangguran di Minsel ini, lanjut Terok, pertama bagaimana mengembalikan anak usia sekolah ke sekolah atau paling tidak dibangun pendidikan non formal. Yaitu, berupa tempat pelatihan keterampilan. “Selain itu, menggairakan dunia usaha terutama UKM,’’ ujarnya.
Sementara itu, salah satu pemuda kreatif di Minsel, Henly Tuelah, mengatakan, salah satu solusi yang patut dilakukan pemerintah adalah memberikan kesempatan dan peluang usaha kepada generasi muda pengangguran di daerah ini.
“Caranya tak lain memberikan pelatihan khusus enterpreneurship disertai pemberian fasilitas modal kerja untuk membuka usaha ekonomi produktif.
“Ini tinggal bagaimana pemerintah melakukan atau mensiasatinya,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah dapat mendorong pemberdayaan di sektor lain, seperti pertanian atau kelompok usaha produktif lainnya.
“Kalau tidak ada solusi segera, pasti akan berdampak pada kesenjangan dan kerawanan sosial dan bakal menambah koleksi orang miskin di daerah kita ini,” ujar Tuela yang dikenal sebagai salahsatu pengusaha muda sukses ini.
(andries)