Ratahan,Fajarmanado.com — Dua tahun berturut Bupati James Sumendap membawa Minahasa Tenggara (Mitra) mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI.
Sumendap juga mendapatkan restu dari Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pusat yakni Hj Megawati Soekarnoputri untuk bertarung di pilkada minahasa tenggara tahun 2018 nanti.
Sumendap juga dikenal sebagai sosok bupati yang berhasil membawa keluar Mitra dari opini disclaimer.
“Saya siap bertarung di Pilkada Mitra,” ujar Sumendap bersemangat.
Opini WTP yang diterimanya, kata mantan anggota DPRD Sulut ini, adalah bukti jika integritas, kinerja, dan akuntabilitas sudah mulai baik di Mitra.
“Saya hanya manajer di sini. Kita target hat trick, tahun depan. Kalau turun, saya tidak mencalonkan diri sebagai bupati. Karena sekarang tetap WTP, saya siap mencalonkan diri,” tutur Sumendap.
Dengan Dukungan penuh dari semua mesin partai, James Sumendap
Mengenai siapa pendamping nanti, Ketua PDI-Perjuangan Mitra ini masih enggan buka mulut. “Sudah dipersiapkan,” tandasnya.
Di sisi lain, melihat peluang dari Sumendap, pengamat politik Sulut Toar Palilingan menilai sangat besar.
“Jika dilihat dari apa yang telah dilakukan Sumendap di Mitra, misalnya pembangunan infrastruktur, berjalan sesuai apa yang diprogramkannya, serta program lainnya yang berjalan dengan baik, peluangnya untuk menang di Pilkada 2018 sangat besar,” ujar Toar ketika diwawancarai oleh Fajarmanado.com Kamis (16/11/2017).
Dia mengingatkan agar Sumendap memilih pasangan dengan melihat elektabilitas bersangkutan. Untuk yang saingan Sumendap nanti, Toar mengatakan belum terlalu menonjol. “Saya melihat lawan Sumendap di Mitra belum ada yang terlalu menonjol,” tandasnya.
Lebih lanjut Toar mengatakan, dalam pemilihan wakil nanti, Sumendap harus hati-hati.
“Ada dua kepentingan untuk menentukan calon wakil kepala daerah. Yaitu Kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. Kepentingan jangka pendek, Pak Sumendap harus mencari sosok yang memperkuat dukungan masyarakat terhadapnya,” katanya.
Karena, menurut Toar, pengaruh dukungan rakyat terhadap calon bukan hanya tingkat kesenangan kepada sosok calon bupati. Akan tetapi juga kepada calon wakil bupati.
“Jadi jangan menganggap remeh menentukan calon wakil bupati. Jika salah memilih pasangan calon maka bisa saja dukungan masyarakat akan berkurang. Akan tetapi jika Pak Sumendap mampu membaca keinginan masyarakat tentang kepada siapa yang harus ia pilih untuk berpasangan dengannya maka potensi dukungan akan semakin besar,” jelasnya.
Contohnya, Toar menjelaskan salah satu kemenangan Jokowi karena dia mampu menggandeng Jusuf Kalah yang berasal dari luar pulau Jawa.
“Jadi kombinasi pasangan yang mempertemukan dua etnik akan sangat berpengaruh,” terangnya.
Toar pun mengusulkan, Sumendap memilih calon wakil putra asli daerah asal Mitra.
“Itu dimaksudkan hubungan emosional antara Pak Sumendap dengan masyarakat Mitra akan semakin solid,” jelas dosen Pasca Sarjana Unsrat.
Kemudian, Toar menerangkan, dalam hal kepentingan jangka panjang, Sumendap harus menggandeng calon wakil untuk mendukung stabilitas pemerintahannya.
“Banyak pemimpin daerah yang gagal mempertahankan keutuhan pasangan calon sampai akhir periode jabatan,” paparnya.
Karena, menurut Toar, manajemen pemerintahan terganggu karena konflik kepala daerah dan wakilnya.
“Untuk itu Pak Sumendap harus mengantisipasi itu. Karena Pak Sumendap murni seorang politisi maka sebaiknya Pak Sumendap mengambil tokoh masyarakat yang berasal dari birokrat atau mantan birokrat. Hanya dengan cara itu maka manajemen pemerintahan dijamin bisa stabil,” pungkas Toar.
Penulis : Didi Gara