Manado, Fajarmanado.com — ‘Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku…’ Inilah sepenggal kalimat bernada penolakan yang meluncur dari mulut Robert Wolter Monginsidi saat akan dieksekusi, mencerminkan jiwa besar Bote sebagai patriot bangsa.
Subuh, pada tanggal 5 September 1949, ketika orang terlelap dalam buaian malam, Bote dibawa ke Panaikang Tello untuk di eksekusi. Dalam usia yang sangat muda, 24 tahun, ia harus berdiri tegar dihadapan regu tembak menanti datangnya peluru penjajah. Sekitar pukul setengah lima subuh sang Harimau Sulawesi memasuki tempat ‘pembataian’ sambil menyalami tangan para eksekutor yang telah siap menunaikan tugas mereka.
“Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa saudara-saudara,” katanya dengan suara yang mencerminkan kebesaran hati sang Mogandi Bantik.
Ketika para petugas akan menutup matanya, dengan tegas Bote menolak. Dengan mata terbuka dan hati rela, ia ingin melihat peluru penjajah menghujam tubuhnya. ‘Merdekaaaa…!’ teriakan penuh semangat menggema memenuhi langit Panaikang Tello menyambut 8 butir peluru penjajah yang menghujam tubuhnya. 4 butir peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 di pelipis kiri dan 1 di pusar.
Mendapat hujaman delapan butir peluru eksekutor penjajah, Bote, sang pahlawan Nasional, tersungkur roboh disambut ibu Pertiwi yang menangis pilu kehilangan salah satu Putra terbaiknya. Dalam tubuh sang Patriot bangsa, terdapat Alkitab yang sering dibawanya dan dalam alkitab tersebut terselip kertas yang bertuliskan; ‘Setia hingga terakhir didalam keyakinan’.
Robert Wolter Mongisidi ditangkap tentara Belanda pada tanggal 28 Februari 1947 di SMP Nasional Makassar. Namun pada tanggal 17 Oktober 1948, berhasil meloloskan diri bersama teman-temannya lewat cerobong asap dapur. 10 hari kemudian Bote kembali ditangkap oleh Belanda dan lewat proses peradilan, pada tanggal 5 September 1949 ia dibantai oleh eksekutor. 8 butir peluru penjajah yang bersarang di tubuhnya, membuktikan pembantaian dari penjajah Belanda, padahal eksekusi ini dilaksanakan 4 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sang putra terbaik Bantik telah gugur, namun spirit Nasionalis, Patriotik dan Intelektualnya tetap hidup dalam semangat juang generasi muda Indonesia. Jiwa dan semangat sang Mogandi Bantik terus menggelora disetiap nadi anak bangsa. Keberanian dan keteguhan hatinya, menjadi cahaya disetiap perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Semboyannya ‘Setia Hingga terakhir didalam keyakinan’ membakar semangat juang putra putri Indonesia untuk terus berkarya ditengah persaingan global.
Sejumlah penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia antara lain; Bintang Gerilya, Bintang Mahaputra III serta Gelar Pahlawan Nasional lewat SK Presiden RI tertanggal 6 November 1973. Terima kasih Pahlawanku… (Jones Mamitoho)