1. Gelar yang Sempurna
“Titel ini rasanya sangat spesial mengingat semua hal yang terjadi sepanjang 2016.” Itulah salah satu komentar Marc Marquez setelah merebut titel MotoGP ketiga dalam empat tahun di Motegi. Pernyataan tersebut merujuk pada dua hal, yaitu masalah motor dan perseteruan dengan Rossi.
Melihat performa Honda pada pramusim, Marquez tak pernah menduga bisa menjadi juara dunia apalagi saat musim masih menyisakan tiga seri lagi. Awalnya, motor RC213V kalah kompetitif dari rival. Marquez sampai mengubah gaya balapnya dari agresif menjadi konservatif.[irp]
Hasilnya positif. Marquez tampil konsisten sepanjang musim. Dia menjadi satu-satunya pebalap yang selalu meraih poin pada setiap balapan. Saat Honda mulai beradaptasi dengan ban Michelin dan elektronik, Marquez pun semakin sulit dibendung.
Terkait perseteruan dengan Rossi, Marquez berkali-kali menegaskan enggan meladeni perang di luar trek. Marquez pun memetik buah dari kemampuan menjaga fokus pada kejuaraan.
Dengan gelar juara ini, Marc Marquez seolah memberi pesan bahwa dalam kondisi apapun dia tetap bisa menjadi nomor satu. Bahkan, gangguan dari luar pun tetap tak bisa menggoyahkan Marquez.(bolacom)