Tompaso, Fajarmanado.com – Ribuan lanjut usia (Lansia) berkumpul di Aula Sekolah Lanjutan Adven (SLA) Tompaso Barat, Rabu (19/10).
Wakil Bupati (Wabup) Minahasa Ivan SJ Sarundajang hadir pertemuan Lansia Rayon Tiga, yang berasal dari 74 denominasi gereja di Wilayah Langowan Raya, Tompaso Raya, Kawangkoan Raya dan Sonder.
Acara ini diawali dengan doa syukur oleh Pdt Jhony pioh dan di lanjutkan dengan laporan Sekretaris Komisi Daerah (Komda) Lansia Kabupaten Minahasa.
Wabup IvanSa, yang juga Ketua Komda Lansia Minahasa, mengajak gara semua Lansia yang hadir supaya bersyukur kepada Tuhan, sebab Tuhan baik karena telah menuntun sampai di tempat ini dengan tidak kurang suatu apapun.
“Mohon maaf saya terlambat, suara saya agak serak-serak sebab semalam saya tidur merinding, flu berat,” kata putra sulung gubernur Sulut dua periode Dr Sinyo Harry Sarundajang ini.
Ivansa mengaku patut bersyukur atas penyertaan Tuhan yang sungguh luar biasa. “Sebelum tidur saya bilang Tuhan siapa yang akan mewakili saya di acara Lansia besok (hari ini) di Tompaso, Tuhan bilang, yang ketua cuma 1 orang bukan 2 orang,” kisahnya.
Sebelum saya tidur, lanjut Ivansa, dirinya berkata. “Kalau begitu saya akan bangun besok pagi dengan tubuh yang baik dan saya akan menghadiri yang sudah kita rencanakan bersama.”.
Pemandangan yang aneh terjadi ditempat ini, ketika didepan meja pimpinan ada 2 orang tua, katanya hanya dirinya sendiri yang muda. “Ironi sekali karena saya memimpin Lansia,” ujarnya.
Di negara ini, kata Ivansa, pemimpin lansia itu adalah Wakil Gubernur, Wakil Walikota dan Wakil Bupati. Pemimpin Lansia itu tidak boleh di delegasikan kepada orang lain.
” Mohon maaf kepada oma dan opa, awalnya saya tidak mau pimpin lansia,” ujar Ivansa.
Katanya, dia dilantik tanggal 17 Maret 2013 menjadi Ketua Lansia Komda Minahasa. Tiga bulan kemudian, mandat pengurus diterima.
“Saya katakan saya tidak mau memimpin lansia, sebab umur saya masih terlalu jauh berbeda dengan umur oma-opa, karena saya baru 44 tahun Agustus kemarin. Jadi kalau mau dilihat umur saya, mungkin anak keempat dari oma dan opa sekalian,” ucapnya.
Ivansa mengatakan, Tuhan memakai hatinya untuk memegang tugas mulia ini. Bulan Desember 2013, dia menyatakan bertemu dengan kedua orang tuanya di kediaman pribadi di Winangun sedang berkemas, karena segera mengakhiri jabatan dua periode Gubernur Sulut.
“Kita lia kita pe papa deng mama so tua, Pak Sinyo umur 70 tahun dan ibu Deitje 67 tahun pada waktu itu. Mereka mengundang saya karena saya anak tertua, Ivan ini begini, ini begitu. So musti kita urus pa ngoni ini,” katanya.
Dari pemandangan ini, ketika tiba di kantor, Ivansa menanyakan kepada stafnya, mana data para Lansia. “Karena Tuhan menyerahkan saya mengurus Lansia atau orang tua diurus oleh orang muda. Tidak bisa lansia urus lansia, nda bisa jalan bergandengan tangan masuk got dua-duanya,” katanya agak berkelakar.
“Tiga puluh tahun lalu begini ngoni pe model, picture atau gambaran orang Minahasa berani, tegas. Saya ini adalah masa lalu saudara dan bapak ibu adalah gambaran masa yang akan datang saya. Jadi kalau ada anak, cucu menelantarkan saudara, lapor pada saya,” tegas Ivansa.
Pertemuan lansia ini sendiri bertujuan untuk mendata lansia wilayah sampai ke kecamatan agar Komda Lansia Minahasa dapat data otentik berapa banyak Lansia di Minahasa dan berapa di antara Lansia sudah memiliki kartu BPJS kesehatan dan sudahkah mendapatkan bantuan langsung dari Presiden Jokowi.
“Tidak semua Lansia yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pemikiran mereka masih baik dan ide mereka lebih dari kita,” ujarnya.
Untuk itu pemerintah desa harus berdayakan Lansia. “Apalagi menyangkut dana desa, tolong libatkan mereka dalam pekerjaan. Kalau ada bantuan profesional seperti alat pertukangan atau lainnya libatkanlah mereka, kita perlu data agar supaya dapat disalurkan tepat sasaran,” pungkasIvansa.
(den)