Tondano, Fajarmanado.com — Kabupaten Minahasa mulai diramaikan kehadiran orang gila (Orgil). Para pengindap gangguan jiwa ini dinilai hanya dibiarkan bebas berkeliaran di mana-mana, baik di pemukiman warga maupun di pusat-pusat keramaian, termasuk di pusat kota Tondano.
Frans Temo, salah satu warga Tondano, menilai instansi terkait terkesan melakukan pembiaran terhadap penanganan orang gila. Tak pernah terlihat ada upaya melakukan penanganan, minimal mengamankan dan menyerahkan mereka kepada keluarga masing-masing. “Jangankan membawa ke rumah sakit jiwa, membawa pulang kepada keluarga mereka tak pernah terlihat samasekali,” ujarnya kepada Fajarmanado.com di Tondano, Selasa (04/07/2017), pagi tadi.
Sikap pembiaran ini, Temo menilai, disamping tidak ada sikap manusiawi yang ditunjukkan instansi terkait di Pemkab Minahasa, juga akan memberikan kesan minor terhadap upaya pemkab mensukseskan program Pesona Minahasa yang sementara bergulir.
“Yang harus kita pikirkan adalah kesan wisatawan yang datang berkunjung di Minahasa. Apa pendapat Anda apabila Anda sebagai wisatawan yang berkunjung di daerah ini kemudian sering berpapasan dengan orang gila yang berkeliaran bebas,” papar Temo balik bertanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Kadisos) Kabupaten Minahasa Royke Kaloh SH saat dikonfirmasi tidak membantah kenyataan ini. Namun, kata dia, untuk menangani Orgil dibutuhkan kerjasama terpadu lintas instansi.
Menurutnya, keberadaan Orgil yang berkeliaran bebas di tengah-tengah masyarakat sangat berkaitan erat dengan kesehatan dan ketertiban umum.
“Kalau kesehatan, harus melibatkan Dinas Kesehatan. Berkaitan dengan ketertiban, tentunya harus melibatkan Sat Pol PP. Ini yang saya maksud dengan kerjasama lintas instansi,” jelas Kaloh di ruang kerjanya, siang tadi.
Selain kerja dari instansi terkait, lanjut Mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) Minahasa ini, peran keluarga juga sangat vital. Karena, tanpa dukungan dari keluarga, penyakit jiwa sulit untuk disembuhkan.
“Contohnya saat sedang perawatan di rumah sakit jiwa, tentu pihak keluarga yang harus rutin mengecek perkembangan kesehatan dari pasien yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut,” kilah Kaloh.
Penulis : Fiser Wakulu
Editor : Herly Umbas