Kawangkoan, Fajarmanado.com — Inisiasi Vanda Sarundajang, SS setelah mendengar kerinduan masyarakat agar Kawangkoan Bersatu pascapemekaran kecamatan tahun 2010, mendapat respon hukum tua (Kumtua) senior di Kabupaten Minahasa.
“Saya sangat-sangat setuju sekali. Nafas pemekaran Kawangkoan melalui moto Esa Cita Sumerar, Sumerar Cita Esa harus konkretkan, minimal dengan upacara bersama 17 Agustus setiap tahun,” komentar Rickie Koampa kepada Fajarmanado.com, Senin malam, 30 Juni 2025.
Rickie Koampa adalah Hukum Tua (Kumtua) Desa Tombasian Bawah, Kecamatan Kawangkoan Barat.
Jabatan kumtua disandang pria yang dikenal vokal ini selama 19 tahun, sejak Desa Tombasian Bawah masih masuk wilayah administrasi pemerintahan Kecamatan Kawangkoan.
Untuk itu, Recky mengaku tahu persis semangat pemekaran Kecamatan Kawangkoan dan kesemarakan rangkaian kegiatan perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI sebelum dan setelah Kawangkoan dimekarkan pada Juli 2010.
“So beda jauh tu rame, apalagi upacara terakhir Kecamatan Kawangkoan tahun 2009. Waktu itu, desa dan kelurahan so dimekarkan jadi total 20 desa dan 10 kelurahan,” ujarnya.
Rickie yang juga Ketua Kompelka P/KB GMIM Wilayah Kawangkoan Dua mengatakan, banyak anggota masyarakat dan jemaat GMIM yang mengaku rindu Kawangkoan Bersatu, minimal terlibat dalam upacara dan pawai bersama HUT Proklamasi Kemerdekaan RI.
“Makanya, saya berani menyatakan mendukung inisiasi Ibu VaSung sebagai bagian dari tokoh masyarakat Kawangkoan raya ini,” tandasnya seusai rapat bersama para tokoh masyarakat serta kumtua dan lurah se Kawangkoan raya dikediaman VaSung, kompleks Taman Sinyo Harry Sarundajang, malam tadi.
Rickie berharap agar upacara dan pawai bersama secara nanti harus dipersiapkan matang agar sukses.
“Ini akan jadi semacam test case, kalau berhasil pasti tahun-tahun berikutnya akan mulus dilaksanakan,” imbuh satu-satunya Kumtua aktif saat proses pemekaran Kecamatan Kawangkoan ini.
Untuk itu, Rickie menyarankan agar panitia yang dibentuk nanti lebih fokus untuk sukses pelaksanaan upacara dan pawai.
“Seperti yang saya sarankan tadi, kalau ada kegiatan lomba-lomba antardesa/kelurahan yang akan dilaksakan oleh panitia bersama, sebaiknya satu dua saja. Itu pun lomba yang tidak ribet digelar,” ujarnya.
Sedangkan setiap kecamatan bisa melaksanakan berbagai kegiatan lain melalui panitia lokal agar semarak perayaan HUT Proklamasi RI ke 80 nanti tetap melibatkan dan dirasakan langsung oleh segenap lapisan masyarakat.
“Apa kegiatannya, ya terserah kecamatan masing-masing,” tutur Rickie sambil menyebut beragam lomba tradisional, semisal, lari karung dan jinjing bakul.
[heru]