Mawuntu Kesal, Konsultan Proyek Pasar Kawangkoan ‘Menghilang’

Kantor PT Sulfana Karya Jaya, konsultan proyek di Pasar Kawangkoan, tertutup rapat sehingga di depan pintu dijadikan tempat parker motor
Kantor PT Sulfana Karya Jaya, konsultan proyek di Pasar Kawangkoan, tertutup rapat sehingga di depan pintu dijadikan tempat parker motor

Kawangkoan, Fajarmanado.com – Wakil Ketua DPRD Minahasa, Ventje Vicktor Mawuntu mengaku kesal terhadap sikap manajemen PT Sulfana Karya Jaya. Perusahaan konsultan perencana pembangunan sarana pasar modern di Pasar Kawangkoan tak pernah lagi nongol atau terus ‘menghilang’ di lokasi proyek.

“Bagaimana pelaksanaan proyek ini berjalan sesuai perencanaan kalau konsultannya tidak aktif mengawasi. Jangan hanya mau terima jasa konsultan tapi tidak melaksanakan kewajiban mereka,” ketus Mawuntu.

Legislator Partai Gerindra ini mengaku telah berkali-kali berniat menemui pihak konsultan di lokasi proyek. Namun niatnya untuk berkonsultasi tak kunjung kesampaian. Jangankan muncul di lokasi proyek, pintuk kantor oprasionalnya  pun selalu tertutup rapat.

“Saya tak tahu persis, apakah kontrak konsultannya sudah dibatalkan atau bagaimana. Kalau pun perusahaan itu telah diblacklist, harus langsung ada penggantian secepatnya. Kalau tidak, bisa saja sudah ada main mata dalam lingkaran pemilik dan penanggung jawab proyek ini,”  papar Mawuntu.

Pelaksanaan pekerjaan proyek Pasar Kawangkoan ini, santer disebut-sebut tidak dikerjakan langsung oleh kontraktor pemenang tender. Pekerjaannya ‘disubkontraktorkan’ kepada pengusaha konstruksi lain.

Mulanya, yang getol mempersiapkan lokasi proyek adalah pria berinisial WT alias Kok Welly. Ketika proyek pekerjaannya segera dimulai pada 8 Agustus 2016 silam, yang muncul Handoko. “Saya juga mendengar selentingan kabar seperti ini. Bagi saya itu urusan lain. Keinginan kita tentu bagaimana proyek ini terealisasi sesuai dengan aturan,” ujar Mantu.

Jacky Rompas, pengawas pelaksana pekerjaan dari PT Dayana ini, menyatakan, pemilik pekerjaan tersebut bukan orang lain tapi bosnya, Handoko. “Itu isu yang tidak benar. Proyek ini milik Pak Handoko. Kebetulan saja bos dengan Kok Welly masih satu perusahaan konsorsium,” jelasnya.

Seperti halnya kontraktor pelaksana, perusahaan konsultan perencana pun disinyalir ‘disubkontraktorkan’ kepada PT Sulfana Karya Jaya. Pasalnya, kerena tidak berkerja dengan baik, manajemen PT Sulfana Karya Jaya ini sempat mendapat surat teguran dari PT Virca Jaya Consultant. Surat itu bernomor 01/STG/VIII tanggal 3 Agustus 2016, yang ditandatangani oleh Superior Engeneering, Ivana Makadau, ST.

Mengenai hal ini, Jacky Rompas mengaku tak mengetahuinya. “Saya cuma ditugaskan Pak Handoko melakukan pengawasan. Saya tidak paham soal itu,” kelitnya.

Kantor beradaan kantor konsultan, yang terletak berdampingan dengan kantor direksi kid perusahaan pelaksana, tampak tertutup rapat. “So lama dorang (konsultan) ndak pernah datang,” ujar Rompas dengan dialek Manado.

(ely)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *