KOTAMOBAGU, FAJARMANADO.com—Rivalitas Ir. Tatong Bara dengan Drs. Djelantik Mokodompit ternyata masih tajam. Perseteruan antara walikota dan mantan Walikota Kotamobagu ini terus saja berlanjut. Kritikan pedas namun santun dan rasional terus saja meluncur dari mulut Djelantik kepada pemerintahan Walikota Tatong.
Sikap kritis kembali ditunjukkan Djelantik, mantan Walikota Kotamobagu, ini kepada Tatong, penggantinya, saat Rapat Sidang Paripurna Ranperda Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2015-2019 di Gedung DPRD Kotamobagu, Selasa (10/11/2015)
Ketika Tatong mendapat kesempatan pidato dan tiba podium, tiba-tiba terdengar kata, Interupsi. Walikota dan para anggota DPRD bersama jajaran pimpinan SKPD tampak terhenyak. Di jejeran kursi pimpinan dewan, tampak Wakil Ketuanya, Djelantik mengangkat tangan.
Mendapat kesempatan, Djelantik meluncurkan uneg-unegnya yang seperti biasanya, kritis dan pedas namun sangat rasional. “Saya ingin bertanya kepada Ibu Walikota, alasan apa posisi Sekretaris Daerah ( dari Mustafa Limbalo kepada Tahlis Galang) harus diganti. Dalam Undang-Undang ASN sangat jelas dikatakan bahwa pergantian Sekot itu bisa terjadi apabila terjadi kekosongan, sementara pergantian ini tidak terjadi kekosongan,” tanya Djelantik, dengan mata tertuju pada bekas Wakil Walikotanya tersebut yang berdiri di podium.
Begitu banyak alasan yang mendasarinya sehingga Djelantik tak menggubris teriakan instrupsi dari sesama anggota DPRD-nya. Tatong pun tampak tenang mendengarkan rangkaian pertanyaan dan pernyataan mantan anggota DPR RI tersebut.
Usai Djelantik berbicara, dengan sedikitmenebar senyum, Tatong mengatakan, penggantian tersebut bukan tidak punya dasar. “Kami sebagai pemerintah sampai hari ini tetap berupaya membangun kemitraan dengan DPRD. Pergantian Sekkot itu merupakan usulan dari DPRD untuk mengevaluasi kinerja seluruh SKPD sampai di tingkat Sekkot. Ini merupakan sebuah wujud nyata dari permintaan DPRD terhadap Pemerintah,” kata Tatong singkat, sammbil memaparkan pidato pada paripurna tersebut.
Dua tokoh ini pernah bersanding dan memimpin Kotamobagu dengan jargon Djelita (Djelantik-Tatong) pada Pemilihan Walikota tahun 2008. Rivalitas politik mereka amat kentara mulai ditabuh beberapa saat setelah menjadi pasangat terpilih Walikota dan Wakil Walikota Kotamobagu tahun 1998 akibat berbeda partai politik.
(samsu/audy)