Tomohon, Fajarmanado.com – Eksistensi orang Minahasa di Indonesia adalah anak kandung NKRI, dan bukan anak tiri di Indonesia,”Sejarah telah membuktikan para pahlawan asal Minahasa telah ikut berjuang mendirikan bangsa dan negara Indonesia dengan segala pengorbanannya,” tegas Laksdya DR Desi Albert Mamahit dalam dialog “Minahasa di Persimpangan Jalan”, Kamis (01/06/2017) di Perpustakaan AZR Wenas, Tomohon.
Acara dialog yang disponsori oleh Masyarakat Adat Minahasa (MAM) dan Persatuan Minahasa (PM) dengan penggagas dr Bert Adrian Supit itu, dihadiri sejumlah tokoh Minahasa yang peduli dengan eksistensi Minahasa secara global, nasional dan lokal. Dialog yang dipandu Syeni Watulangkow dan Lona Lengkong ini, digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni.
Menurut Mamahit, karena orang Minahasa bukan anak tiri di negara ini, maka orang Minahasa juga berhak untuk hidup dan berkarya bagi bangsa dan negara,”Jadi sebagai anak kandung NKRI, maka kita bisa menjadi apa saja di negara ini. Mau jadi menteri, mau jadi pejabat tinggi, mau jadi pengusaha besar, semua terbuka lebar,” ujar Mamahit yang pernah menjabat Kepala Bakamla (Badan Keamanan Laut) RI ini.
Ia mengungkapkan, dalam sejarah bangsa Indonesia, orang Minahasa pernah sangat berjaya sebagai pelopor kemajuan, khususnya dalam bidang pendidikan. “ Dalam sejarah, Minahasa pernah menjadi daerah atau distrik yang paling banyak sekolahnya di Indonesia. Minahasa pernah menjadi daerah yang lebih banyak sekolahnya dibanding dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah . Meskipun pada waktu itu belum ada Perguruan Tinggi,” jelasnya.
Dan hasil dari pendidikan itu, telah melahirkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di berbagai bidang. Sehingga tokoh-tokoh asal Minahasa sangat disegani di negara ini. “Tapi sekarang ini, mohon maaf mana lagi tokoh-tokoh asal Minahasa yang bisa diandalkan. Menjadi menteri saja sudah sangat sulit,” ujarnya lagi.
Karena itu, tambahnya, perlu disemangati lagi apa yang disebut dengan Kebangkitan Orang Minahasa. Seperti yang juga pernah didiskusikan para perantau asal Minahasa di Amerika Serikat sekitar tahun 2005 yang digelar di New Jersey, ketika Mamahit menjadi atase militer di negara Paman Sam itu. Acara diskusi itu juga dihadiri mantan Ketua Sinode GMIM alm Prof Dr WA Roeroe.
Kebangkitan yang dimaksud, tuturnya, ada tiga tingkatan. Yang pertama eksis di dunia internasional, baik sebagai perantauan (migran), maupun peran lainnya di dunia internasional. Kedua, eksis di negara Indonesia dalam berbagai bidang. Dan ketiga eksis di Tanah Minahasa sendiri. Dalam konteks internasional, khususnya di Amerika Serikat, ada semangat orang Minahasa sebagai migran di AS untuk bisa menjabat jabatan-jabatan penting, entah sebagai senator, gubernur, atau apa saja. Karena sebagai negara migran, AS membuka kesempatan kepada para migran untuk eksis di negara tersebut.
Sedang dalam kaitan dengan eksis secara nasional, maka perlu dibangkitkan lagi peran SDM Minahasa untuk bisa menduduki jabatan-jabatan strategis sebagai penentu kebijakan di negara Indonesia. “Sekarang ini tokoh-tokoh Minahasa sudah sangat sulit bersaing, karena kualitas orang Minahasa sudah kalah bersaing dengan daerah-daerah lain,” katanya lagi.
Sedang eksis secara lokal di tanahnya sendiri, menurut Mamahit, saat ini sudah semakin mengkhawatirkan, karena tampaknya tanah Minahasa sudah semakin dikuasai para pendatang. “Coba lihat saja pelaku-pelaku ekonomi di Manado dan Minahasa Raya. Siapa pemilik-pemilik toko dan swalayan, siapa pemilik-pemilik hotel, siapa yang membangun dan berusaha di bidang wisata. Lihat saja Indomart dan Alfamart sudah ada dimana-mana. Apa ada orang Manado dan Minahasa sebagai pemiliknya? Sepertinya, akses ekonomi sudah dikuasai oleh para pendatang. Saya khawatir jangan-jangan orang Minahasa akan terpinggirkan, dan bisa senasib dengan orang Betawi di Jakarta,” tegasnya.
KARIR MILITER ALBERT MAMAHIT
Pada saat menjabat sebagai Kepala Bakorkamla RI dia berperan dalam merumuskan lahirnya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan, kemudian dia berhasil memperjuangkan dibentuknya Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) yang akhirnya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo pada tanggal 15 Desember 2014, sehingga dia dilantik menjadi Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) yang pertama di Indonesia. Dari bulan Juni 2014 sampai bulan Agustus 2015 Dia mengemban amanat untuk ditugaskan sebagai Rektor Universitas Pertahanan Indonesia menggantikan Letjen TNI Drs Subekti MSc MPA yang pada tanggal 21 Maret 2014 menjadi Pati Mabes TNI AD dalam rangka pensiun.
Tugas sebagai Rektor Universitas Pertahanan Indonesia dijabat secara rangkap bersamaan dengan tugasnya sebagai Kalakhar Bakorkamla RI dan sebagai Kepala Bakamla RI. Sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Danseskoal) tahun 2013, menjabat sebagai Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran (Waasrena) Kasal tahun 2012 dan menjabat sebagai Komandan Gugus Keamanan Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Danguskamlabar) tahun 2011.
Pernah bertugas sebagai Atase Angkatan Laut di KBRI Washington, DC tahun 2003 – 2006 dan pernah di tugaskan sebagai Pengamat Militer PBB / United Nations Military Observer di negara Bosnia-Herzegovina dan Kroasia tahun 1995-1996. Pernah tugas latihan di kapal perang negara Perancis, kapal induk helikopter “PH Jeanne D’Arc” tahun 1987-1988 dengan berlayar keliling dunia. Banyak bertugas di Kapal-kapal Perang di Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim) dan Komando RI Kawasan Barat (Koarmabar), serta pernah bertugas di Mabes TNI AL dan Bais TNI.
Sebagai Lulusan terbaik dari pendidikan Seskoal tahun 2000 Perwira Tinggi TNI AL ini dikenal sebagai intelektual di TNI AL, dia memiliki gelar Doktor (S-3) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan memperoleh gelar Master of Science (S-2) dari Naval Postgradute School, Monterey Amerika Serikat. Dari Sekolah ini dia mendapat penghargaan sebagai Distinguised Alumny. Pendidikan tertinggi yang di TNI yang diikuti adalah Sesko TNI tahun 2008 dan Lemhannas tahun 2013.
Dia mendapat pendidikan militer di HMS Dryad Inggris untuk pendidikan Principal Warfare Officer (PWO) Course dan Anti Submarine Warfare Course pada tahun 1994. Dia aktif menjadi pembicara dan nara sumber pada berbagai Seminar, Konferensi, Pertemuan, Forum Grup Diskusi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saat ini sejak bulan Mei 2016 dia bertugas di Markas Besar TNI AL dengan jabatan sebagai Staf Khusus Kepala Staf TNI AL.
Jeffry Th. Pay