Gubernur Olly Bertemu ‘Pahlawan Devisa’ Sulut di Jepang

Gubernur Olly Bertemu ‘Pahlawan Devisa’ Sulut di Jepang
OLLY DI OARAI: Meski tak masuk agenda, Gubernur Olly Dondokambey bertemu dengan warga Sulut di Oarai, Ibaraki, Jepang. Saat itu, Stery Makalew, pria yang 18 tahun menjadi ‘pejuang devisa” di negeri Sakura ini mengungkapkan kendala bahasa dan ketrampilan kerja. Tampak Ei, sapaan akrab pria asal Bitung ini duduk disamping Ketua DPRD Andre Angouw dan Sekdaprov Edwin Silangen.
Oarai, Fajarmanado.com – Gubernur Sulut Olly Dondokambey bertemu dengan para ‘pahlawan devisa’ asal Nyiur Melambai di Kota Oarai, Provinsi Ibaraki, Jepang, tadi malam.

Setelah melakukan pertemuan dengan Presiden International Manpower (IM) Development Organization Japan,  Mr Kyoei Yanagisawa di Tokyo, Gubernur Olly dan Ketua TP PKK Sulut  Rita Tamuntuan Dondokambey, Ketua DPRD Andre Angouw dan rombongan bertolak ke Oarai.

Gubernur Olly Bertemu ‘Pahlawan Devisa’ Sulut di Jepang
GAMBATTE: Suasana TKI Sulut ketika bekerja keras (gambate) di kawasan pertanian (Hatake) tomat, kawasan Hinuma, Provinsi Ibaraki, Jepang. Foto: Toga/Ist.

Setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 2 jam, gubernur bertemu dengan WNI Sulut yang mengadu nasib bekerja di Oarai dan Nakaminato. Di kota perikanan ini, Olly bercengkrama dengan puluhan Kawanua.

Lawatan Olly dan rombongan ke negeri Sakura selang sepekan ini, sebenarnya tidak masuk dalam agenda. Namun karena permintaan warga Sulut yang tengah mengais rejeki di wilayah itu, gubernur pun menyempatkan diri mampir.

Oarai Machi atau Kota Oarai dikenal sebagai wilayah ‘padat tenaga kerja Sulut’ sejak dekade tahun 1990-an. Kebanyakan di antara mereka adalah pekerja ilegal, yang ‘terbang’ dengan visa turis dan atau kunjungan keluarga. Namun tak sedikit pula yang menggunakan visa Nikey Jin, visa warga turunan orang asli Jepang.

Di negeri matahari terbit ini mereka bekerja serabutan. Di Oarai dan tetangganya, Nakaminato umumnya bekerja di perusahaan ikan, tapi ada juga yang menekuni pekerjaan bangunan, yang dikenal dengan Gemba dan Hatake atau di bidang pertanian di kawasan wilayah Hinuma, sekitar 30 menit perjalanan darat.

Di Oarai dan sekitarnya, diketahui ada tiga gereja. Yakni, Gereja Masehi Injili Jepang (GMIJ), Gereja Interdenominasi Injili Indonesia (GIII) dan GISI.

Kehadiran Gubernur Olly di Oarai spontan mendapat apresiasi dari warga Kawanua setempat. Stery Makalew mengaku bangga mendapat kunjungan orang nomor satu di provinsi asalnya.

Ei, pria asal Bitung yang orang tuanya telah lama berdomisili di Manado ini, mengatakan baru kali ini bertemu dengan sosok Gubernur Sulut yang berkunjung di Jepang selang 18 tahun bekerja di Jepang.

“Ini merupakan suatu kebanggaan besar bagi kami hampir dua dasawarsa terakhir,” kata suami Joan Silap, warga Desa Kiawa I Barat, Kecamatan Kawangkoan Utara, Minahasa ini.

Ei mengatakan, persoalan yang dihadapi tenaga kerja Indonesia di Jepang selama ini  adalah banyaknya perusahan atau LPK yang mendatangkan tenaga magang swasta namun tidak dibarengi dengan pelatihan bahasa dan ketrampilan memadai sehingga berakibat pada buruknya kualitas kerja.

Sementara Gubernur Olly berjanji akan menyiapkan pelatihan bahasa bagi putra putri sulut  yang akan mengikuti program magang ke Jepang bekerja sama dengan Unsrat, Gubernur juga memberikan apresiasi kepada salah satu warga Jony Galag yang membentuk NGO ( Non Goverment Organization ) atau LSM di Jepang dan sudah mendapat persetujuan dari Pemerintah Jepang.

Untuk itu, Gubernur Olly mengharapkan NGO dapat ikut membantu dan memfasilitasi warga Sulut bekerja di negeri Matahari Terbit yang dikenal memiliki etos kerja yang tinggi ini.

(ely)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *