Kawangkoan, Fajarmanado.com — Kerinduan masyarakat Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara untuk menjadikan Kawangkoan sebagai Kota Pahlawan, kian bergelora.
Geliat ini ditandai dengan membentuk tim kerja Seminar Nasional Alex Mendur dan Frans Mendur, kakak beradik tokoh pers nasional –yang juga Putra Kawangkoan– ini.
Seminar nasional para tokoh calon penerima gelar pahlawan nasional merupakan salahsatu prasyarat.
“Secara administratif, saat ini sudah 99 persen rampung. Kami hanya menyesuaikan beberapa poin dengan format terbaru dari Kementerian Sosial, termasuk memenuhi empat berkas yang belum ada,” kata Judie Turambi, SH, penggagas dan pengusul Mendur Bersaudara sebagai pahlawan nasional kepada Fajarmanado.com di Kawangkoan, Minggu, 1 Juni 2025.
Alex dan Frans Mendur, menurut Judie, telah daftarkannya di Kementerian Sosial RI untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Dari sekitar 30 poin syarat administrasi terbaru, tinggal empat yang mesti dipènuhi.
Selain seminar nasional, katanya, pandangan tokoh masyarakat, akademisi dan birokrat, juga rekomendasi bupati dan gubernur Sulawesi Utara (Sulut) setelah melalui tahap penelitian dari Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Daerah (TP2GD) Sulut.
“Saya sangat mengapresiasi, tokoh-tokoh masyarakat Kawangkoan mendukung penuh atas perjuangan ini. Bahkan, mereka telah membentuk tim kerja seminar nasional,” tuturnya.
Sementara itu, “Tim Kerja Mendur Bersaudara menuju Pahlawan Nasional” memastikan akan menggelar Seminar Nasional Mendur Bersaudara, Alex dan Frans Mendur pada akhir Juni atau awal Juli 2025 mendatang.
“Seminar nasional ini dilaksanakan untuk memenuhi salahsatu syarat pengusulan pahlawan nasional Mendur Bersaudara yang telah dirintis dan dilakukan oleh bung Judie Turambi SH,” kata Koordinator Tim Kerja, Drs. Eddy Ruata secara terpisah.
Didampingi Ventje Mawuntu, SE, Herly Umbas, Drs. Djonny Laloan, Drs Dantje Tumober, Deki Walangitan dan Piet Hein Tenda, ia mengatakan, seminar nantinya akan mengundang nara sumber sejarawan, akademisi, Gubernur Sulut dan Bupati Minahasa dan Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Daerah (TP2GD) Sulut.
Seminar nasional ini, dipastikan digelar di Kawangkoan. “Kawangkoan dipilih menjadi tempat pelaksanaan seminar agar masyarakat sekapung Alex dan Frans Mendur akan lebih banyak yang tahu persis perjuangan Mendur Bersaudara sampai saat kemerdekaan diproklamirkan Soekarno–Hatta,” ujarnya.
Karena itulah, masyarakat 20 desa dan kelurahan di tiga kecamatan Kawangkoan raya akan diundang.
“Ya, tentu saja akan ikut melibatkan pula peran aktif pemerintah tiga kecamatan bersama 10 kelurahan dan 20 desa,” kata Ruata yang juga Ketua Majelis Adat Kawangkoan (MAK).
Sejarah Gelar Pahlawan
Judie menambahkan, upaya memenuhi syarat administrasi Mendur Bersaudara untuk mendapat gelar pahlawan nasional, relatif punya tantangan tersendiri.
“Setelah saya telusuri, baru kali ini ada dua tokoh yang diusulkan bersama-sama untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional,” tutur Judie, sejarawan dan jurnalis ini.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam proses ini adalah menemukan satu pemahaman calon ahli waris dari kakak beradik Mendur, yang menjadi syarat penting dalam prosedur pengusulan.
“Tapi puji Tuhan, kedua calon ahli waris sudah ditemukan. Tanpa itu, proses tidak bisa dilanjutkan,” imbuhnya.
“Ada satu lagi sejarah yang akan tercatat apabila Mendur Bersaudara menjadi pahlawan nasional. Yaitu pahlawan nasional yang murni dari kalangan pers,” sambung Judie.
Kota Pahlawan
Jika Mendur Bersaudara dan Ch Ch Taulu ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Judie menegaskan bahwa Kawangkoan bisa didaulat sebagai Kota Pahlawan.
“Akan ada empat pahlawan nasional dari Sulut yang menjadi pahlawan nasional nantinya,” katanya.
Meski demikian, Judie mengakui jika baru satu putra Kawangkoan yang sah menjadi pahlawan nasional. Yaitu Bernard Wilhem Lapian atau BW Lapian (18 Juni 1892–30 April 1977).
Tokoh sipil pejuang pada 14 Februari 1946 yang dikenal dengan peristiwa heroik Merah Putih 1946 di Manado ini telah menyandang gelar pahlawan nasional pada tahun 2015.
Sedangkan rekan seperjuangannya dari tokoh militer, Charly Choesji Taulu atau Ch Ch Taulu (28 Mei 1909–26 Mei 1969), yang juga putra Kawangkoan, ini tinggal menunggu pengesahan oleh Presiden Prabowo.
“Kita tahu bersama, di bekas taman mahkam pahlawan di Kawangkoan telah dibangun monumen BW Lapian dan Ch Ch Taulu pada tahun 2013,” ujarnya.
[resmon]