Airmadidi, Fajarmanado.com – Kegairahan kelompok budidaya rumput laut untuk memasarkan komoditi hasil laut dari Minut, ternyata terkendala pembeli. Hanya beberapa pembeli saja yang siap menerima, salah satunya dari Kabupaten Bolmut.
Bahkan permintaan ini menurut petani budidaya rumput laut Melati Yosefin Nelwan hanya dalam bentuk bibit.
Hal ini tentu jadi permasalahan serius yang harus diperhatikan pemerintah.
“Selama ini pembudidaya rumput laut terkendala masalah pemasaran. Sebelumnya ada pembeli dari Manado, sekarang tidak ada lagi, sehingga dipastikan untuk pemasaran rumput laut hanya berputar-putar ditempat,” tutur Nelwan, Jumat (28/04)
Nelwan mengaku produk hasil laut berupa rumput laut Desa Nain sangat menjanjikan, karena kualitasnya. Hanya saja, saat panen tiba, untuk pemasarannya sangat sulit.
“Apalagi harga jual bibit rumput laut terlalu rendah. Untuk bibit saja dijual Rp3 ribu per kilo gram (kg). Sudah bisa dipastikan, dengan kejadian seperti ini, ditakutkan gairah para pembudidaya rumput laut akan menurun dan memilih banting setir,” jelas Nelwan.
Walau untuk permintaan ke Bolmut sekitar 50 ton tiap pekan, tapi tetap saja tidak bisa diharapkan, katanya.
Harapan kami pemerintah bisa melakukan terobosan untuk mengangkat penjualan rumput laut tersebut, tambahnya.
Sementara penyuluh perikanan Delvy Laloan mengaku informasinya pihak kementerian telah membukan jalur kerjasama dengan para pembeli dari negara Eropa.
“Yang saya tahu Menteri KP Susy Pujiastuti telah melakukan kontrak kerjasama dengan 5 negara eropa. Intinya bahwa sudah ada pembeli, sehingga memudahkan pelaku usaha rumput laut di daerah ini,” terang Laloan.
Laloan berharap, Pemkab Minut melalui Dinas terkait harusnya proaktif mencari buyers. Apalagi komoditi ini merupakan salah satu komoditi andalan Minut yang bisa meningkatkan taraf hidup para pembudidaya rumput laut yang tersebar di Minut.
“Kualitas rumput laut Minut menjadi andalan, sayangnya pembudidaya rumput laut kesulitan mendapatkan pembeli. Kasihan jika hanya bergantung pada satu pembeli saja, padahal hasil panennya sangat banyak,” tutup Laloan.
(udi)