Oleh: Andre Vincent Wenas
MEMANG begitu adanya. Adam Malik senyatanya tidak menempuh pendidikan formal yang tinggi. Tapi kapasitas intelektualnya disebut jauh melampaui para pemegang gelar DR (Doktor), apalagi yang cuma “Humoris Causa Humoris Causa-an” atau HC2-an.
Mantan Wapres ini fenomenal. Lantaran, cuma “SD, pun tidak tamat”. Namun bisa jadi orang nomor dua di Republik Indonesia.
“Semua Bisa Diatur”, begitu judul buku Adam Malik yang dulu pernah saya baca sewaktu SMA (pendidikan formal saya beberapa tingkat lebih tinggi dong… ha… ha… ha… tapi karir saya paling top jadi ketua kelas semasa SMA).
Adam Malik lahir di Pematangsiantar pada tahun 1917. Sejak muda terlibat dalam jurnalisme dan pergerakan politik.
Ia tidak memperoleh pendidikan universitas seperti banyak pejabat negara pada masa sekarang. Ia berprofesi sebagai wartawan, diplomat, menteri luar negeri, ketua DPR/MPR, dan Wakil Presiden RI (periode 1978–1983).
“Semua Bisa Diatur” adalah judul bukunya, yang diberi sub-judul “Untaian Wicara Adam Malik 1983–1984”, merupakan himpunan pidato dan pemikirannya.
Menariknya, sumber biografis juga menunjukkan bahwa Adam Malik sering menggunakan bahasa Inggris dalam pidato-pidatonya, selain bahasa Indonesia, tentunya.
Jadi kepingin tahu, para pejabat kita sekarang yang sering memajang gelar Doktornya bisa nggak pidato pakai bahasa Inggris? Ya sudah, dicampur bahasa Inggris versi jaksel juga okelah. Misalnya, sering-sering menggunakan kata “which is” untuk menggantikan kata “yang” dalam percakapannya.
Oh ya, frasa “semua bisa diatur” bukanlah otomatis berarti “semua bisa dibeli” seperti slogan pejabat jaman now. Ini bagian yang sering hilang ketika kutipan Adam Malik itu.
Ungkapan “semua bisa diatur” dimaksudkan dalam konteks bahwa semua persoalan dapat dipecahkan apabila ada iktikad baik dan kesungguhan—bukan semata-mata berarti segala sesuatu dapat diatur dengan uang atau kekuasaan. Jadi harus ada itikad baik dulu.
Ini seperti konsep “Seven Habits of Highly Effective People” dari Stephen Covey yang selalu mencari Win-Win Solution. Lain kali kita bahas ini.
Ringkasnya, ketujuh kebiasaan itu adalah memulai dari sikap “be proactive”, lalu “begin with the end in mind”, kerjakan dengan prinsip “put first thing first”, selalu “think win-win”, dan “seek first to understand then to be understood”, sampai ke “synergize”.
Nah, konsep atau gaya diplomasi Adam Malik ini seakan merangkum konsep “Seven Habits of Highly Effective People” dari Stephen Covey itu ke dalam satu kalimat “Semua Bisa Diatur”. Intinya, sekali lagi, berangkat dari itikad baik.
Sayangnya, jaman now sering diplesetkan, “semua bisa diatur” jadi bermakna “siapkan saja uang pelicin”.
Ini salah kaprah dan ngawur. Akibatnya kamar penjara pun bisa berubah jadi serasa kamar “presidential suite” di hotel bintang lima. Tanya saja pada Kalapas Cibinong yang tugasnya “membina” terpidana kelas VVIP.
Adam Malik bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang setara Sekolah Dasar (SD) di Pematangsiantar (kabarnya nggak tamat).
Lalu, ia melanjutkan ke Madrasah Sumatera Thawalib di Parabek, Bukittinggi, tetapi hanya sekitar satu tahun.
Ia kemudian juga sempat mengikuti pendidikan agama lainnya, tetapi tidak sampai menyelesaikan pendidikan formal tersebut. Ia banyak belajar secara autodidak dan gemar membaca. Ini yang penting, gemar membaca.
Kita tahu, pendidikan teknis paling mendasar yang terpenting adalah CaLisTung, membaca-menulis-berhitung, Selebihnya merupakan tugas seorang manusia untuk mengembangkan dirinya, termasuk dalam soal akhlak dan moral. Teruslah banyak membaca, menulis dan berhitung. Jadilah orang baik dalam akhlak dan moral.
Jadi, Adam Malik tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi. Pendidikan formalnya berhenti pada tingkat pendidikan dasar, tetapi ia kemudian memperoleh pengetahuan terutama secara autodidak.
Adam Malik meniti karir sebagai wartawan, lalu ikut mendirikan kantor berita Antara, menjadi diplomat sampai ke kursi Menteri Luar, akhirnya ia diangkat menjadi Wakil Presiden RI.
Adam Malik, sebagai diplomat, wartawan, dan birokrat, sering mengatakan “semua bisa diatur”.
Ia memang terkenal mempunyai banyak jawaban untuk berbagai persoalan. Ini gaya diplomasi Adam Malik, melihat masalah yang tampaknya buntu selalu masih dapat dicari jalan keluarnya.
Optimisme dan rasa percaya diri yang didukung integritas itu membuat dirinya menjadi diplomat yang dipercaya dan punya wibawa. Gaya diplomasi “semua bisa diatur” diasosiasikan dengan kemampuannya untuk selalu mencari jalan keluar.
Ingat ini baik-baik. Adam Malik bukanlah orang yang memiliki pendidikan formal yang tinggi, ia masuk ke dunia intelektual melalui membaca, menulis, dan berorganisasi.
Gibran Rakabuming Raka. Lho kok nyinggung nama Gibran, why? Prabowo Subianto. Lho ini lagi, kok nama Prabowo dibawa-bawa segala, why?
Coba tanya, Gibran dan Prabowo, apakah punya ijazah SMA di Indonesia nggak? Eh, Pak Harto punya ijazah SMA nggak? Ibu Megawati tamat kuliah nggak? Cuma nanya lho.
Yang jelas mereka semua orang-orang hebat. Bukan gelandangan politik yang sibuk nyinyirin pemimpinnya.
Penulis: Andre Vincent Wenas, MM, MBA, pemerhati ekonomi dan politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.