Pelayanan IGD RS Siloam Sonder Disorot, Pasien Tidur Berjejal di Kursi

FajarManado.News, Sonder–Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Siloam Sonder, Minahasa, Sulawesi Utara, kini disorot masyarakat.

Bukan pelayanan medis, tapi masyarakat mengeluhkan lambatnya proses administrasi dan pasien diantar ke kamar rawat inap.

Bahkan, ada oknum petugas yang disinyalir memeriotaskan “orang-orang dekatnya”.

Tak hanya itu, pihak rumah sakit swasta rujukan BPJS Kesehatan itu, diduga keras kekurangan fasilitas kamar rawat inap pria dan anak-anak.

“Kalau memang sudah tidak ada kamar, sebaiknya pasien diarahkan ke rumah sakit (rujukan) lain. Apalagi anak-anak,” kata seorang ibu muda, Kamis, 14 Mei 2026.

Ia mengaku anaknya, yang tengah tidur di kursi ruang IGD terpaksa harus rela menunggu antrian.

“Ya mau bagaimana lagi, tadi kwa dorang ndak bilang kalu ruang perawatan anak so full,” ketus wanita yang sekira Pukul 23.30 Wita, malam itu, duduk menunggu di sisi depan ruang IGD, sementara anaknya sedang tertidur di kursi ruangan IGD, dijaga suaminya.

Keluhan yang sama juga disampaikan seorang pria yang mengaku mendampingi ayahnya untuk menjalani rawat inap.

“Kita so tanda tangan berkas sejak sekitar jam 9 (malam) tadi. Mar, belum dapa ruangan sampe skarang,” ujarnya. “Kan, bapak ada lia tadi,” sambung dia kepada FajarManado.News.

Ketika dikonfirmasi kepada perawat senior yang sedang duduk bekerja menghadap komputer, ia menyampaikan agar bersabar.

Berapa lama, ia menjawab tidak ada batasan waktu. “Soalnya Pak, petugas laki-laki kami yang bertugas mengantar pasien ke ruang hanya satu orang,” kilahnya.

Menurut dia, setiap pasien yang masuk, sudah disampaikan oleh petugas untuk menunggu antrean proses administrasi dan pemeriksaan trease.

“Kan petugas tadi sudah menyampaikan kepada pasien jangan sampai ada complan seperti ini,” ujarnya dengan nada tinggi.

Pasalnya, ada salahsatu pasien yang diharuskan dokter rawat inap dan menyampaikan konfirmasinya jika pasien wanita lansia itu masih tersedia kamar sesuai dengan kelas perawatannya.

Mendaftar sekitar jam 4 sore dan menjalani pemeriksaan trease namun jelang jam 9 malam, pasien yang duduk mengunggu di ruang IGD itu, belum juga dipangil dan diantar ke ruang rawat inap.

Keluarga pasien pun berinisiatif brrtanya kepada salahsatu perawat, tapi ketika dicek, berkas pasien itu belum juga ada di meja dokter jaga. Terselip di antara tumpukan berkas proses administrasi awal, lalu dipindahkan ke meja dokter jaga.

Seusai berdialog dengan dokter spesialis melalui jaringan telepon, oleh dokter jaga si pasien disarankan berbaring  di salahsatu ranjang IGD, sambil menunggu obat minum dan dijemput petugas pengantaran.

Akan tetapi, semua ranjang sudah penuh, sehingga dokter tersebut menunjuk dan mengantar ke kursi panjang yang tengah diduduki oleh seorang ibu pendamping pasien lain, sambil meminta permisi.

“Oma sudah ada kamar, tinggal tunggu diantar petugas (masuk kamar inap),” kata dokter jaga itu. Beberapa saat berlalu, salahsatu perawat membawa obat untuk ditenggak.

Menjelang jam 12 malam, pasien tersebut belum juga dijemput menuju kamar rawat inap. Makanya, keluarga pasien itu kembali berinisiatif bertanya kepada perawat senior yang sementara sibuk di depan komputer dokter jaga tadi, yang menjawab pertanyaan dengan jangan komplain.

Jawaban tersebut dinilai berbanding terbalik dengan moto pelayanan RS Siloam Sonder.

Soalnya, moto rumah sakit tertua di Indonesia Timur ini terpampang jelas tulisan; Memiliki kerendahan hati dan menjadi teladan dalam berkarya.

Selain itu, tertib administrasi dinilai harus diprioritaskan RS milik GMIM ini. Antrean pendaftaran dan penanganan pasien mesti ditertibkan.

Pada malam Jumat, pekan lalu itu, selain berkas pasien tidak ditangani berurut, pemberian fasilitas kepada pasien yang tidak fatal, juga tidak sesuai jadwal masuk.

“Ada pasien yang baru masuk, diberi kesempatan dapat ranjang dari pasien yang sudah lama datang. Perawat muda sempat bilang mana pasien yang datang lebih dulu, tapi perawat senior itu tidak hiraukan,” ujar seorang ibu pengantar pasien lainnya. “Ya, mungkin kenalan perawat itu,” sambungnya.

[heru]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *