Pemilihan Ketua PWI Sulut 2026-2031, Gerbong Lama Versus Perubahan

Sintya Bojoh Jadi Ancaman, Kubu Eks Sekretaris PWI Sulut Cs Hembuskan ABS

FajarManado.News, Manado — Siapa yang layak memimpin PWI Sulawesi Utara (Sulut) periode 2026–2031, akan ditentukan oleh 297 pemilik hak suara yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT)  pada Konferensi Daerah (Konferda) PWI Sulut di Manado, Selasa, 31 Maret 2026.

Ada empat nama yang lolos dan ditetapkan PWI Pusat sebagai Calon Ketua PWI Sulut pada 25 Maret lalu.

Mereka adalah Merson Simbolon, John Wisley Paransi, Faruk Langaru, Sintya NS Bojoh, satu-satunya calon dari kaum perempuan.

Dengan demikian, pertarungan memperebutkan ketua organisasi pers yang berdiri sejak tahun 1946 di Sulut ini, terjadi antara Sintya, sebagai penantang, yang mengusung visi perubahan versus tiga calon dari “gerbong” atau eks pengurus di jajaran PWI di Sulut.

Merson adalah Sekretaris PWI Sulut 2021–2026, sedangkan John pernah Ketua PWI Tomohon dan Faruk di Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Penentunya, tak lain adalah 297 pemilih yang masuk DPT sah pada Konferda PWI Sulut di Aula Kantor Wali Kota Manado nanti.

Ironisnya, tak sedikit wartawan senior, yang memulai karir jurnalistik sejak era tahun 1980-an dan telah mengatongi Kartu Tanda Anggota (KTA) PWI,  tidak masuk DPT gegara berbagai persoalan. Antara lain, tak diakomodir dan atau tidak difasilitasi PWI Sulut untuk diupgrade keanggotaannya.

Keberlanjutan vs Perubahan

Menilik rekam jejak karir para calon, perebutan kursi Ketua PWI Sulut kali ini, menawarkan dua opsi; Keberlanjutan dari gerbong lama dan Perubahan.

John dan Faruk, dinilai masih logis jika mengusung visi transformasi organisasi PWI Sulut jika terang-terangan tidak puas dengan kepemimpinan duet Vouke Lontaan dan Merson sebagai ketua dan sekretaris PWI Sulut 2021–2026.

Namun Merson, oleh sebagian besar wartawan senior, tidak afdol mengusung visi perubahan. Ia lebih diyakini akan melanjutkan program PWI Sulut 2021–2026, pengurus yang sarat sorotan negatif dari sebagian komunitas pers di daerah ini.

Sementara, Sintya, dipandang layak. Sebagai pendatang baru merebut ketua, wewene Tountemboan ini pantas mengusung visi trasformasi atau perubahan.  Stile kepemimpinan baru untuk mengembalikan marwah PWI di daerah Nyiur Melambai ini.

“Visi perubahan ini akan saya jabarkan melalui misi berupa gebrakan-gebrakan yang berorientasi pada kepentingan organisasi dan anggota,” ujarnya kepada FajarManado.News melalui saluran telepon, baru-baru ini.

Ia bertekad membesarkan PWI Sulut. Para wartawan senior yang terabaikan, misalnya, semuanya akan dirangkul. Kartu Tanda Anggota (KTA) Jurnalis yang telah dibayar ongkos administasinya, akan diperjuangkan.

Tak sampai di situ. Sintya juga berkomitmen meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan melalui pelatihan-pelatihan, termasuk membudayakan kode etik jurnalistik yang nyaris terabaikan selama ini.

Di era tahun 1980-an, untuk mendapatkan Kartu Pers PWI, setiap wartawan diwajibkan mengikuti tes yang digelar PWI.

Ujian tidak hanya soal menulis berita dasar 5W+1H, tetapi juga bagaimana mengimplementasikan kode etik jurnalistik di lapangan. Yang diawali sapaan, memperkenalkan diri dan menunjukkan identitas hingga tata cara dan teknik wawancara.

Ganti Gerbong

Visi dan misi Sintya ini, sontak menjadi sorotan komunitas wartawan yang peduli, cinta organisasi PWI dan profesi pilar ke ke empat demokrasi ini.

Tak ayal, “ganti gerbong” menjadi tren baru dari kalangan jurnalis Sulut jelang Konferensi PWI Sulut 2026, besok.

“Supaya ada perubahan, harus ganti gerbong,” demikian pernyataan dari salahsatu personil Dewan Kehormatan (DK) PWI Sulut 2021–2026.

ABS

Di sisi lain, beredar kabar, kubu Merson, John dan Faruk kini agak berubah sikap dan “pasang kuda-kuda”.

Tiga pria calon Ketua PWI Sulut ini disebut telah rela menanggalkan ego masing-masing. Berkoalisi, menyatu dengan menghembuskan komitmen Asal Bukan Sintya atau ABS.

Karena itulah, muncul pula spekulasi, bahwa bakal ada calon yang mengundurkan diri saat injure time pemilihan Ketua PWI Sulut 2026 nanti. Jika terjadi, maka peluang head to head terbuka lebar.

Penulis: Herly Umbas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *