Amurang, FajarManado.News — Dugaan praktik mafia penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Sulawesi Utara (Sulut) kembali mencuat. Kali ini, seorang sopir di Amurang, Minahasa Selatan, menjadi korban “pencurian” kuota digital.
Insiden yang memicu kemarahan publik di media sosial ini, terungkap setelah akun Facebook bernama Chu’x Tubagus memviralkan pengalamannya di grup Viral Sulut, Jumat, 12 Desember 2025.
“Kejadian kemarin mo ba isi minyak di pertamina kapitu Mar so nda dapa ba isi full karna dari pertamina laeng so pake. sapa yg mo bertanggung jawab soal ini? itu bukti karyawan pertamina kapitu yg kase Tunjung bantu up,” ungkap Chu’x Tubagus dalam postingannya dengan dialeg Manado.
Postingannya Tubagus tersebut dinilai membuka tabir kelam lemahnya perlindungan data konsumen dalam sistem distribusi BBM bersubsidi.
Ditolak di Kapitu, Terpakai di Tombatu
Kejadian bermula pada Jumat siang itu di SPBU Kapitu, Amurang. Chu’x Tubagus berniat mengisi penuh tanki BBM mobilnya dengan jenis Pertalite. Namun, saat petugas SPBU memindai QR Code MyPertamina miliknya, sistem menolak.
Ia pun kaget, tidak percaya. Tapi petugas SPBU Kapitu itu menunjukkan bukti pada layar monitor bahwa kuota harian kendaraannya telah habis terpakai di SPBU Pertamina lain.
“Sakit hati melihat jatah subsidi rakyat kecil dimainkan. Saya ada di Amurang, tapi sistem bilang saya sudah isi bensin di Tombatu,” ujar korban dalam keluhannya.
Mengarah ke SPBU Milik Ronald Kandoli
Korban pun menelusuri jejak digitalnya. Investigasi dari bukti transaksi yang diperlihatkan petugas SPBU Kapitu menunjukkan fakta yang mengejutkan.
Kuota barcode milik korban tercatat baru saja digunakan di SPBU 7495901, oleh mobil Daihatsu Sigra putih dengan plat nomor DB1202JC, berlokasi di Jalan Raya Ratahan – Amurang, Kecamatan Tombatu, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).
Jarak antara SPBU Kapitu (Amurang) dan SPBU Tombatu (Mitra) mencapai lebih dari 40 kilometer dengan waktu tempuh normal sekitar 1,5 jam. Secara logika, mustahil satu kendaraan melakukan pengisian di dua lokasi tersebut dalam waktu yang hampir bersamaan, kecuali terjadi penggandaan (cloning) barcode secara ilegal.
Sorotan publik kini tertuju tajam pada manajemen SPBU di Tombatu tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi, SPBU 74.959.01 tersebut disebut-sebut milik keluarga Ronald Kandoli, pengusaha migas ternama yang juga dikenal sebagai Bupati Mitra.
Indikasi Permainan
Kasus ini memicu dugaan kuat adanya praktik kongkalikong antara operator SPBU nakal dengan para penimbun BBM.
Modus yang sering digunakan adalah menyalin foto barcode milik pelanggan sah, lalu memberikannya kepada “pelanggan prioritas” yang diduga keras jaringan mafia BBM dengan menggunakan mobil pelat nomor palsu disesuaikan dengan data barcode curian.
Praktisi Hukum dan Pengamat Kebijakan Publik menilai kejadian ini bukan sekadar eror sistem namun karena adanya barkode dan pelat nomor kendaraan ganda.
“Jika barcode dipakai di SPBU milik pejabat, pengawasannya seharusnya lebih ketat. Jika lolos, patut diduga ada unsur kesengajaan atau pembiaran dari manajemen terhadap operator yang bermain’ di lapangan,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.
Tuntutan Penindakan
Hingga berita ini diturunkan, postingan Chu’x Tubagus telah dibanjiri komentar warganet yang mendesak aparat kepolisian, khususnya Polres Mitra dan Polda Sulut, serta Pertamina Patra Niaga untuk turun tangan.
Bahkan, ada yang menyarankan supaya dilakukan audit CCTV di SPBU Tombatu pada jam transaksi tersebut untuk melihat kendaraan siapa yang menggunakan barcode korban.
Jika terbukti, sanksi tegas berupa Pemutusan Hubungan Usaha (PHU) kepada manajemen SPBU yang terbukti memfasilitasi mafia migas seperti ini.
Selain itu, Gubernur Yulius Selvanus diminta metindak tegas tanpa pandang bulu meski pemiliknya adalah pejabat, seperti Bupati Ronald Kandoli.
Skandal barkode ganda ini menjadi ujian bagi Pertamina dan aparat penegak hukum, apakah berani menindak tegas pelanggaran di SPBU milik “orang kuat”, atau membiarkan rakyat kecil terus menjadi korban pencurian hak subsidi.
Saat berita ini diterbitkan pihak SPBU 7495901 belum bisa terhubung dan akan diupayakan terus untuk konfirmasi selanjutnya
[Lucky]