DPP APDESI

Goa Jepang Longsor, Ini Kata Pemilik Rumah Makan Ranowangko Indah

Goa Jepang Longsor, Ini Kata Pemilik Rumah Makan Ranowangko Indah
Penampakan ruas jalan Nasional di depan Goa Jepang Kiawa dan Rumah Makan Ranowangko Indah, Kawangkoan yang sudah kembali berfungsi normal meski belum tuntas dibersihkan dan ditata, Senin (13/2) siang tadi.
Kawangkoan Utara, Fajarmanado.com – Peristiwa tanah longsor dari bagian atas Goa Jepang Kiawa, Kawangkoan, Minahasa ternyata telah dikhawatirkan pemilik Rumah Makan Ranowangko Indah.

Potensi bencana ini muncul karena pemerintah  dianggap tidak peduli melakukan perawatan lingkungan situs budaya dan peninggalan sejarah ini.

“Kami sebetulnya sudah berencana melakukan perawatan tapi belum mendapat orang kerja,” kata Frida Assa kepada Fajarmanado.com, Sabtu (11/2), siang tadi.

Oma Ida, sapaan akrab wanita 75 tahun ini dikenal sebagai pemilik rumah makan Ranowangko Indah Kawangkoan yang berseberangan dengan Goa Jepang Kiawa, di wilayah Kelurahan Talikuran. Kecamatan Kawangkoan Utara.

Rumah makan prasmanan ini, dikenal milik Keluarga Joppie Worotitjan-Assa, tapi telah beralih tangan kepada anak perempuan sulungnya, Syane Worotitjan.

Keberadaan pepohonan liar yang tumbuh di atas dan dinding tebing terjal berketinggian sekitar 40 meter itu, telah berpotensi longsor. Retakan tanah semakin kentara di beberapa tempat dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami (keluarga) sudah sepakat untuk menyewa orang kerja sejak dua pekan lalu, tapi orang yang biasa melakukan pembersihan lokasi ini masih sibuk,” ujar Oma Ida, isteri mantan Hukum Tua (Kumtu) Desa Kiawa Dua (raya), Joppie Wowotitjan.

Semasa hidup, Joppie Worotitjan terus berinisiatif melakukan perawatan tebing yang membentang sekitar 60 meter di bagian atas Goa-Goa Jepang di sisi Barat jalan akses utama masuk Kawangkoan dari Kecamatan Sonder ini.

“Ya, termasuk merawat dan membersihkan sampai di bagian dalam goa-goa,” kata Oma Ida, yang kini warga Desa Kiawa Dua Timur.

Kumtua Desa Kiawa Dua Timur Hentje Walukow dan Lurah Talikuran Denny Mapassa senada mengatakan, Joppie Worotitjan semasa hidupnya dikenal amat rajin melakukan perawatan goa-goa Jepang dan lingkungannya.

Goa Jepang Longsor, Ini Kata Pemilik Rumah Makan Ranowangko Indah
Keberadaan tebing longsor yang masih menutup mulut Goa Jepang Kiawa dan jurang bekas tanggul yang ambruk di sisi Rumah Makan Ranowangko Indah, Kawangkoan Utara, Senin (13/2), siang tadi.

“Waktu Om Joppie masih hidup, pohon-pohon di dinding sampai di atas tebing tak pernah terlihat membesar dan tinggi sehingga tidak pernah terjadi longsor sebesar ini,” demikian mereka senada.

Bahkan, ketika ada oknum masyarakat yang mencoba melakukan penggalian teras di sekitar tikungan tajam, berkisar 120 meter dari lokasi longsor pada beberapa tahun lalu, Joppie langsung beraksi. Ia pun mencegat dan melaporkan aksi perusakan lingkungan itu  kepada pihak berwewenang.

“Begitulah papa, beliau sangat memperhatikan dengan kelestarian goa-goa di sini walaupun harus mengeluarkan tenaga dan biaya pribadi,” komentar Oske Worotitjan, anak Joppie Worotitjan lainnya.

Oske, yang siang tadi menemani Oma Ida, selanjutnya menyesalkan sikap pemerintah daerah, baik Pemkab Minahasa maupun Pemprov Sulut yang terkesan melalaikan kewajiban merawat dan melestarikan situs budaya ini.

“Selama ini pemerintah hanya membuatkan beton bingkai gerbang masuk dan drainase. Pembuatan saluran air itu pun hanya beberapa meter padahal kabarnya beranggaran sekitar 75 juta waktu itu,” ungkapnya, dibenarkan Hukum Tua Hentje Walukow.

Selain itu, katanya, tidak ada biaya penataan maupun pemeliharaan yang digelontorkan  pemerintah selama ini.

“Malah kami sempat didatangi petugas dari Dinas Pariwisata dan menyodorkan karcis kunjungan untuk disetor setiap bulan. Tentu saja kami menolak,” kata Oske.

Ancaman ambruk goa-goa Jepang tersebut sempat berkali-kali dieskpos media menyusul ambrolnya tanggul yang dibangun di tepi sungai Ranowangko, memanjang di seberang jalan Goa atau di samping kiri Rumah Makan Ranowangko Indah sekitar awal 2012 lalu.

Tanggul yang rampung akhir 2011 itu jebol karena di terpa air yang mengalir melalui drainase dari ujung pemukiman Kelurahan Talikuran.

Air hujan kiriman itu tidak mengalir lurus sampai ujung drainase, namun berbelok  melalui salahsatu goa, kemudian menembus sisi jalan lainnya.

Air kiriman tersebut selanjutnya melintas pada drainase di depan goa dan menyeberang menuju sungai setelah meliwati tanggul tersebut, karena drainase yang dibangun tidak mencapai sungai Ranowangko.

Di duga, drainase tersebut sengaja dibobol oknum tak bertanggung jawab agar air tersebut tak jatuh di kawasan kebun miliknya.

Meski demikian, sampai saat ini tanggul yang ambruk dan drainase yang dibobol tersebut belum juga diperbaiki oleh pihak-pihak yang berkompeten.

Di jurang bekas tanggul inilah yang dijadikan lokasi pembuangan material tanah di kawasan Goa Jepang yang longsor.

(ely)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *