Tondano, Fajarmanado.com – Danau Tondano bagai jantung Sulawesi Utara. Keberadaannya berperan vital menunjang kehidupan banyak orang. Baik sebagai sumber air minum, pembangkit listrik, irigasi, perikanan air tawar dan pariwisata.
Namun keberadaan Danau Tondano tak lagi sehebat dulu. Perannya mendukung kehidupan orang banyak, kian terdegradasi dari waktu ke waktu akibat kehadiran Eceng gondok.
Tak diketahui persis dari mana asalnya, yang pasti hampir dua dekade terakhir, tumbuhan gulma ini seakan leluasa tumbuh menyebar, menutupi permukaan danau.
Selama itu pula, uang ratusan miliar rupiah digelontorkan untuk membersihkannya. Tapi berbagai upaya pemerintah seakan sia-sia.
Banyak kaum intelektual yang telah menawarkan gagasan. Bahkan, Pemerintah daerah maupun BUMN sudah berkali-kali melakukan terobosan. Mulai dari kerja bakti massal dan menggunakan kapal motor khusus, namun Eceng Gondok tetap kembali tumbuh dan menyebar dengan cepat.
Prof Dr Orbanus Naharia MSi, ahli lingkungan dari Universitas Negeri manado (Unima) ini diam-diam telah melakukan pula penelitian. Bahkan, ia meyakini pembasmian Eceng Gondok di Danau Tondano hanya membutuhkan waktu lima tahun.
“Saya rasa, kalau penanganannya terpadu, lima tahun sudah selesai,” ungkap Naharia, yang dikenal sebagai Direktur Pasca Sarjana Unima ini kepada Fajarmanado.com di Tondano, Selasa (25/1/2017)
Berdasarkan penelitiannya, penanganan terpadu dengan memberdayakan pengrajin industri kerajinan dan pupuk organik akan menjadi solusi sangat efektif dalam membasmi Eceng Gondok di Danau Tondano.
Ia mengakui program ini sudah disosialisasikan pemerintah daerah tapi belum dilakukan dengan baik. Sentra kerajinan Eceng Gondok di daerah Nyiur Melambai yang ada sekarang ini belum bisa menghasilkan produk kerajinan Eceng Gondok yang bermutu dan berkwalitas ekspor.
“Dari Yogyakarta, sebenarnya sudah pernah datang ke sini untuk memberi pelatihan. Tapi mereka tidak memberi tahu semua ilmu mereka. Karena takut jadi pesaing produk,” terang Naharia.
Di Kulonprogo, Yogyakarta, produk kerajinan Eceng Gondok terbukti sukses besar. Eceng dibuat menjadi sofa, tas, dan produk berkualitas lainnya.
“Kerajinan mereka laris dipasarkan lewat internet. Bahkan mereka menanam eceng gondok di lahan persawahan. Itu membuktikan bisnis kerajinan eceng gondok di sana sangat menjanjikan,” sambungnya.
Lalu, bagaimana manajemen pemerintah mengatasi pertumbuhan Eceng Gondok. Karena di area danau, banyak rumah makan menyumbang bahan organik penyubur tanaman air ini.
Agar eceng tidak berkembang cepat, katanya, catchment area danau harus ditata karena memang banyak memberikan input nutrisi bagi pertumbuhan Eceng Gondok.
“Pupuk yang ditebar di area di lahan pertanian, cuma 35 persen diserap oleh tanaman. 65 persen atau sebagian besar mengalir masuk ke area air danau. Ini memberikan makanan untuk eceng. Itu juga menyebabkan eutrofikasi atau penumbuhan berlebihan,” jelas Naharia.
Karena itulah, dirinya menyusun penelitian agar eceng bisa dimanfaatkan sebagai bahan pupuk alternatif.
“Kan pupuk langkah, ketika petani memupuk, pupuk tidak ada. Kalaupun ada, mahal. Makanya, kita buat penelitan dan itu berhasil. Sudah dibuat penyuluhan di beberapa kelurahan di Tondano,” ungkapnya.
Kenapa selama ini eceng sulit dibersihkan? Menurut Orbanus, sudah banyak biji eceng menyebar di danau. Timing pemerintah mengangkat eceng pun, tidak tepat.
“Seharusnya, sebelum berbunga, berbiji, sudah dicabut. Kalau sudah berbunga lalu dicabut, bijinya sudah ada lagi. Kalau mau dikurangi, sebelum berbunga harus dicabut. Itu harus dilakukan secara periodik, tiga bulan sekali,” urainya.
Di samping itu, upaya pemerintah melepas ikan pemangsa Eceng Gondok, ia nilai gagal. Ternyata populasi ikan itu, tidak bisa mengimbangi laju pertumbuhan Eceng Gondok.
“Proyek itu gagal. Bibit ikan itu dilepas tapi disikat habis ikan payangka. Kalau cuma benih, dia akan dimakan payangka,” tuturnya.
Dirinya pesimis cara pemangsaan ini bisa mengatasi persoalan. Dalam skala penelitian, katanya, itu bisa. Tapi untuk pengelolaan 10 sampai 20 tahun, tidak akan berhasil. “Karena populasi eceng sangat cepat. Karena ini eutrofikasi. Penumbuhan berlebihan akibat praktek pertanian di area danau. Karena itu perlu manajemen terpadu untuk menyelamatkan tiga pilar, yaitu lingkungan, ekonomi, dan masyarakat,” tegasnya.
Sementara terkait alat Watermaster yang rencananya akan didatangkan oleh pemerintah, menurutnya tidak cukup.
“Pengelolaan harus terpadu jangan cuma mengandalkan alat itu. Nantinya kalau alatnya rusak, input lagi alatnya dengan miliar rupiah. Sementara penyumbang untuk menyuburkan eceng gondok tidak dikelola,” jelasnya.
Menurutnya, itikad baik Pemkab Minahasa mengatasi eceng memang ada. Sudah ada rencana pengadaan alat, juga studi banding di luar negeri. Akan tetapi, masukan dari ilmuan daerah tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Sekarang dapat dihitung jari, kapan pemerintah Minahasa mengundang para ahli lingkungan setempat untuk mengatasi eceng gondok. Artinya harus didiskusikan melibatkan banyak pihak. Kalau cuma sendiri atau dua pihak, belum pas,” pungkas Orbanus.
(fis)