Selain itu, para camat, lurah dan kepala desa semuanya harus proaktif melaporkan jika di wilayahnya terjadi bencana. “Intinya instansi pemerintah siap dengan situasi seperti ini, jadi jangan panik,” tegas Pangerapan.
Salah seorang Mahasiswa yang ditemui Fajarmanado.com di Tataaran mengungkapkan kalau mereka tak menyangka akan ditimpa banjir bandang.
“Tempat kost kami tergenang banjir. Jadi barang-barang elektronik rusak, baju terendam lumpur. Tapi mau bagaimana lagi, yah, kita relakan saja sambil menunggu perhatian dari pemerintah,” ujar wanita yang akrab disapa Uto tersebut.
Senada diungkapan salah satu pemilik tempat kost. Dikatakannya, begitu air masuk ke rumahnya, hal pertama yang ia lakukan adalah mematikan sekring supaya tidak terjadi korsliting.
“Listrik langsung saya matikan. Setelah itu baru menyelamatkan barang-barang dan dokumen berharga. Kecurigaan kami, banjir ini terjadi karena daerah resapan air di Pegunungan Tampusu mulai berkurang,” katanya.
Ia mengatakan, pemerintah harus mengkaji hal ini. “Kami mohon supaya kelestarian alam harus dijaga supaya alam tidak menunjukan kemurkaannya akibat ulah manusia,” jelas lelaki yang identitasnya tidak ingin dipublikasikan tersebut.
Banjir terparah terjadi di wilayah Tataaran Tondano. Air meluap dan mengalir deras menutupi ruas jalan yang membentang di depan Kantor Camat Tondano Barat. Sebelum hujan reda sekitar pukul 16.00 Wita, mobil pun tak bisa melintas. Selain ketinggian air mencapai di atas lutut, air mengalir deras.
Begitu juga banjir di Desa Tounelet Kecamatan Sonder. Sungai yang membentang dari Desa Kolongan Atas ini meluap di wilayah dataran rendah di Sonder tersebut, yang menjadi kawasan peternakan ikan air tawar dan babi.