DPP APDESI

Ini Lima Ulama Gay, dari Fitrah Hingga Agama Kebebasan

Sederet Ulama yang Gay.

Manado, Fajarmanado.com – Gay, Lesbian, Biseksual dan Transgender atau lebih terkenal dengan sebutan LGBT sejak tahun 2015 menjadi perbincangan yang menarik di berbagai kalangan. Ada yang pro dan banyak juga yang kontra, satu persatu pertentangan muncul ke permukaan menanggapi isu LGBT.

Di Indonesia, kehadiran LGBT sangat mendapat pertentangan dari Islam. Banyak ulama dan cendekiawan musim yang menolak, bahkan hingga media televisi pun seakan larut dengan hangatnya isu LGBT sambil juga meraup keuntungan dari iklan.

Jika di negara yang menegakkan hukum syariat Islam, bagi mereka yang menjadi LGBT akan dihukum cambuk hingga di eksekusi dengan pahit.

Meski LGBT mendapat pertentangan, namun semakin hari perkembangannya semakin menunjukkan eksistensinya. Bahkan, sekarang kaum LGBT sudah berani terang-terangan mengakuinya di depan umum.

Yang lebih mengagetkan, tak hanya kalangan orang biasa saja yang menjadi kaum LGBT, sekelompok orang seperti pemuka agama pun ikut menjadi LGBT.

Pemuka agama yang dimaksud yakni para ulama. Ulama ini menjadi LGBT dan bahkan mengakui jati dirinya. Siapa saja ulama gay tersebut, mari kita simak ulasannya yang dikutip Fajarmanado.com dari berbagai sumber :

Mohammed Ludovic Zahed
Mohammed Ludovic Zahed

1.  Mohammed Ludovic Zahed
Ulama Gay ini berasal dari Prancis. Ulama inilah yang membangun masjid kaum LGBT di Paris, Prancis. Zahed sempat mengalami depresi tentang orientasi seksualnya, namun setelah mempelajari Alquran, ia berkesimpulan bahwa semua orang berhak kembali ke jiwanya.

Sehari-hari, ulama gay ini juga banyak menyelamatkan remaja gay yang hendak bunuh diri karena merasa bersalah melanggar ajaran agama. Kabarnya, Zahed sudah menikah dengan pasangannya yang sudah hidup bersama selama empat tahun.

Daayiee Abdullah
Daayiee Abdullah

2.  Daayiee Abdullah
Ulama gay yang kedua ini merupakan warga negara Amerika Serikat (AS). Ulama gay AS ini juga merupakan aktivis LGBT di negeri adi kuasa tersebut. Keputusan dia menjadi gay banyak menuai pro dan kontra. Dirinya mengakui banyak sekali tantangan yang dihadapi selama menjadi kaum LGBT.

Selain menjadi aktivis kaum LGBT, ia juga menjabat sebagai ulama besar di masjid An Nur Al-Islah di kota Washington D.C. Walaupun homoseks, sampai saat ini dia tidak memilih pasangan hidup. Usianya kini sudah menginjak 62 tahun.

Muhsin Hendricks
Muhsin Hendricks

3.  Muhsin Hendricks
Ulama gay yang ketiga berasal dari Afrika Selatan. Pada akhir tahun 90-an muncul Hendricks dan komunitasnya yang disebut Al Fitrah. Dirinya mengklaim menjadi kaum LGBT adalah fitrah manusia yang tidak dilarang oleh Allah SWT. Eksis selama 25 tahun, komunitas Al Fitrah menjadi komunitas yang besar.

Hendricks gencar melakukan kampanye dan diskusi yang berhubungan dengan Islam dan LGBT. Dirinya mengklaim, umat muslim pada dasarnya tak dapat mengubah Alquran namun bisa mengubah persepsi diri melalui ayat-ayat Alquran tersebut.

Rahal Eks
Rahal Eks

4.  Rahal Eks
Ulama yang menjadi LGBT ini berasal dari Jerman. Rahal Eks mengatasnamakan dirinya sebagai Sufi dan memiliki pandangan seks yang tidak biasa (Queer). Ulama gay ini bahkan sudah membuat beberapa buku dan mengajarkan ajaran-ajaran Sufi Islam kepada kaum LGBT.

Dirinya mengklaim, Islam merupakan agama yang memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih apa yang diyakininya serta mencintai diri sendiri adalah kunci menjadi muslim yang baik.

El Farouk Khaki
El Farouk Khaki

5.  El Farouk Khaki
Ulama gay yang terakhir merupakan warga negara Kanada. Sejak tahun 1993 ia aktif menyuarakan kesetaraan hak asasi manusia untuk kaum LGBT khususnya umat muslim.

Ulama gay ini juga membentuk sebuah organisasi yang bernama “Salaam Canada”, sampai saat ini menjadi juru bicara (jubir) LGBT muslim di Kanada. Dirinya bahkan menjadi imam para gay terutama shalat jumat di Masjid Agung kota Toronto.

(Fred)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *