Ya, gula Aren pastilah anda sudah mengenalnya. Penduduk lokal Tomohon lebih mengenal dengan nama gula batu atau juga gula merah. Gula merah awalnya berupa air “Saguer” (nama lokal) yang bahasa Indonesianya nira. Pengolahan air nira yang manis, harus melewati berbagai tahapan, sampai menjadi gula batu yang padat.
Sementara untuk mendapatkan saguer (nira) warga harus mengolah dari pohon enau (seho/ nama lokal). Dalam Bahasa Latin dikenal dengan arenga pinnata. Dari referensi menyebutkan, Indonesia merupakan penghasil gula aren terbesar di dunia.
Hasil produksi gula Aren Indonesia merambah ke Jepang, beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda dan Swiss. Pasar lain yang sedang dibidik adalah Amerika Serikat. Hal ini yang merupakan keunggulan yakni mengkonsumsi gula aren sangat baik untuk kesehatan. Kandungan dalam gula aren dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Bagi mereka yang menderita penyakit diabet, gula aren dapat digunakan sebagai penggantinya gula. Tercatat ada sekitar 6000 ribuan petani yang mengeluti usaha pembuatan gula aren. Ada produksi yang dipasarkan langsung oleh petani ke pasar lokal, namun ada pula yang memasok bahan baku ke pabrik pengelohan yang satu-satunya di Sulawesi Utara.
Konsumsi gula aren terbilang besar. Bagi penikmat kue khas Minahasa pasti sudah pernah mencicipi kue Cucur yang menggunakan bahan baku gula merah sebagai salah satu bahan baku pembuatannya.
Demikian pula dengan kue Waji yang menggunakan gula merah juga. Sementara di restoran dan café pengunjung sering meminta brown sugar.
Untuk memenuhi permintaan pasar terhadap produksi gula aren, menurut Lana Koentjoro-Togas, sudah waktunya untuk dibuatkan industri yang lebih modern guna mengelolah salah satu potensi dari bidang pertanian dan perkebunan yang berbasis masyarakat di pedesaan. Sejalan dengan Nawacita dari pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia dari pedesaan.
Oleh Christy Manarisip
Editor: jeffry th. Pay