Langowan, Fajarmanado.com – Menjamuirnya toko waralaba Indomaret dan Alfamart di Manado-Minahasa, dan berbagai tempat lainnya di Sulawesi Utara, menimbulkan sikap pro dan kontra.
Di satu sisi, kehadiran toko waralaba ini dinilai bisa menambah PAD dan juga membuka lapangan kerja, serta peningkatan jasa pelayanan ekonomi, namun di sisi lain, dianggap merampas kesempatan para pedagang kecil. Bahkan keuntungan dari bisnis itu semuanya dibawa ke Jakarta.
“Yang perlu disoroti sekarang ini adalah sikap dan perilaku usaha mereka (Indomaret/Alfamart) yang tidak menghargai nilai-nilai agama dan budaya di daerah ini. Karena dengan membuka usaha secara penuh di Hari Minggu, itu berarti mereka tidak menghargai nilai agama yang ada di daerah ini yang mayoritas menjadikan hari Minggu sebagai hari beribadah,” ujar Pdt Henly Monangin, STh, tokoh agama asal Langowan, yang kini menjadi salah satu pendeta di Jemaat GMIM Eben Haezer Molompar Timur, Minahasa Tenggara.
Dalam percakapan dengan fajarmanado.com, Sabtu (18/03) di Langowan, Pdt Henly mengungkapkan, kehadiran Indomaret dan Alfamaret, seharusnya tidak hanya untuk meraup untung secara bisnis. Tetapi seharusnya mereka juga menghargai nilai-nilai agama dan budaya yang ada di suatu daerah.
“Sebagai contoh di Bali, kalau ada perayaan Hari Raya Nyepi, maka tidak ada aktivitas apapun di Bali, termasuk penerbangan dan alat transportasi lainnya. Kalau dilihat dari sisi bisnis, berapa kerugian Bali dengan adanya perayaan Hari Raya Nyepi. Tapi yang perlu dilihat adalah sisi positifnya, bahwa para turis pun menghargai nilai-nilai agama dan budaya Bali,” tegasnya lagi.
Ditambahkannya, sebagai daerah mayoritas Kristen, dimana hari Minggu adalah hari beribadah, maka adalah sangat elegan kalau juga toko-toko waralaba tidak membuka usaha pada jam-jam ibadah. Apalagi para pekerja tokonya adalah orang-orang Kristen yang seharusnya beribadah di hari Minggu.
“Sebagai pelayan Tuhan di wilayah kabupaten Minahasa Tenggara, saya bangga dengan sikap Bupati James Sumendap yang tidak mengizinkan beroperasinya Indomart dan Alfamart. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi para pedagang kecil di Minahasa Tenggara. Sebab secara ekonomi, keuntungan para pedagang dapat dinikmati keluarganya. Dan uang hanya berputar di daerah ini. “Tidak seperti Indomaret dan Alfamart, uangnya dibawa ke Jakarta,” ujar Pdt Henly. (jeffry)