Fajarmanado.com, Tomohon — Kota Tomohon butuh pemimpin yang bertutur kata santun, merakyat, total melayani dan juga cerdas.
Dari rekam jejak, itu semua dinilai ada pada Miky Wenur dan Cherly Mantiri, dua sosok perempuan yang yang menjadi pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Tomohon pada Pilkada Serentak 2024.
Dua Wewene Tou Mu’ung ini adalah benar-benar sosok pemimpin yang melayani. Bukan ingin dilayani. Sopan dalam bertutur kata dan menghargai kerja orang lain, tidak terkecuali rekan sekerja, termasuk ‘anak buah’ mereka.
Penilaian tersebut datang dari berbagai kalangan masyarakat Kota Tomohon yang merasakan langsung pelayanan dan pengabdian Miky Wenur dan Cherly Mantiri selama ini.
Tokoh masyarakat Tomohon Jefry Tumanduk, SP, SE dan Hendry Wenas mengakui dalam berbagai ruang dan waktu, secara terpisah sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini Miky Wenur dan Cherly Mantiri terbilang rajin menghadiri kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Miky Wenur, dikenal luas pemberian dirinya dalam kepelayanan gereja sebagai pimpinan Komisi Wanita/Kaum Ibu GMIM. B aik aras jemaat, wilayah maupub sinode.
Di tempat terpisah, Herna Umboh dan Demsy Kaunang, warga Pangolombian, Lenny Rumangkang (Walian), Alexander Pandey (Walian Satu), Syenny Mantow (Kolongan Satu), Meidy Mantow (Kolongan Satu), Boy Manueke (Paslaten), dan Alfi Pelealu (Rurukan), juga sama-sama menilai bahwa Miky Wenur seakan tidak pernah lelah melayani jemaat dan umat serta mengabdi bagi masyarakat dan daerah.
Miky Wenur, bukan sekedar datang tetapi dengan gaya khasnya menyapa masyarakat dan mendengarkan aspirasi.
“Bukan hanya rajin turun lapangan ketika suksesi seperti Pilkada saat ini, tetapi sejak dari dulu,” kata Syenny.
Aktivitas tersebut sudah menjadi keseharian Miky Wenur dan suaminya, Senator Stefanus BAN Liow.
“Setahu saya, pasangan suami-isteri ini sejak tahun 2000 atau 24 tahun lalu sudah aktif dalam kepelayanan gereja baik aras jemaat, wilayah sampai sinode GMIM,” ujar mereka.
Suatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri, gerbang masuk halaman rumah Keluarga Liow-Wenur di Kelurahan Walian terbuka lebar, tidak ada pagar.
“Ini menunjukan mereka terbuka dengan siapa saja tanpa melihat perbedaan status sosial, agama, golongan dan warna warni politik. Siapa saja yang datang, wellcome,” ujar Jefry.
[heru]