DPP APDESI

Kajati Sulut Mengaku Pegal Lewati Jalan Manado-Tomohon

Kajati Sulut Mengaku Pegal Lewati Jalan Manado-Tomohon
Kajati Sulut Mangihut Sinaga SH, MH ketika mengeluhkan kondisi Jalan Manado-Tomohon seusai menghadiri Eskpresi JMS di Kota Tomohon, disaksikan Wali Kota Jimmy Feldie Eman SE Ak, Selasa (04/04), siang tadi.
Tomohon, Fajarmanado.com – Kondisi ruas jalan penghubung utama Kota Manado dengan Kota Tomohon dikeluhkan pula Kajati Sulut Mangihut Sinaga SH, MH. Mantan Kajati Nusa Tenggara Timur ini mengaku pegal-pegal menyusuri jalan yang hanya berjarak sekitar 30 kilometer ini.

Pria kelahiran 8 April 1962 ini menyatakan akan bertemu dan menyampaikan kondisi jalan tersebut kepada Gubernur Olly Dondokambey. “Saya akan membicarakan (keberadaan) jalan ini dengan Pak Gubernur,” katanya di Rumah Dinas Wali Kota Tomohon, Kelurahan Walian II Tomohon Selatan, Selasa (04/04) sore tadi.

Sinaga mengatakan, jalan Tomohon-Manado adalah jalan nasional yang merupakan aset yang dimiliki Pemprov Sulut sehingga apabila terjadi kerusakan maka perbaikannya adalah tanggung jawab dari Pemprov Sulut.

Ia mengatakan, ketika melakukan perjalanan dari Manado ke Kota Tomohon untuk menghadiri kegiatan Kajari Masuk Sekolah (JMS) di Kantor Kajari Tomohon, dirinya melihat begitu banyak titik jalan rusak yang harus diperbaiki.

Menurut Sinaga, perbaikan jalan sangat penting untuk memberikan rasa nyaman kepada pengguna jalan juga untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalulintas.

Bahkan Kajati mengaku badannya sempat merasa pegal pegal saat beradah didalam mobil akibat jalan Manado-Tomohon yang dilaluinya banyak yang rusak parah sehingga sedikit mengganggu kenyamanan saat melakukan perjalanan.

“Saya sangat senang bisa berkesempatan untuk datang di Kota Tomohon, sambil melaksanakan tugas. Saya juga bisa menikmati kesejukan kota ini, namun saat dari Manado menuju Tomohon pinggul saya sempat merasa pegal akibat banyak jalan berlubang yang dilewati,” ketus Sinaga.

Ruas jalan Manado-Tomohon sempat diprogramkan dibangun oleh Pemprov Sulut sekitar 2011 silam. Bukan hanya sebatas dipermulus, namun diperpendek jarak tempuhnya. Namun karena kendala stuktur tanah yang berbatu, program tersebut tak dilanjutkan kendati sudah dibentuk panitia pembebasan lahannya.

(prokla)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *