DPP APDESI

Industri Pariwisata Sulut Jangan Hanya Andalkan Bunaken

Drs Albert Kusen, MA
Manado, Fajarmanado.com – Industri pariwisata di Sulut terkesan kurang peningkatan, karena selama ini hanya mengandalkan Bunaken. “Padahal ada sekian banyak obyek wisata yang bisa dikembangkan untuk dijual ke mancanegara,” ujar Drs Albert Kusen, MA, pengamat pariwisata yang juga dosen FISIP Unsrat.

Kepada Fajarmanado.com, Rabu (22/03) ia mengatakan,, secara umum potensi kepariwisataan yang ada di daerah ini, khususnya Minahasa, Manado, dan Bitung, kurang mendapat perhatian dari masing-masing pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan.

“Kecuali muncul inisiatif dari masyarakat di masing-masing lokasi obyek wisata tersebut, untuk mengelola secara mandiri, sekaligus dijadikan sebagai tambahan pendapaan ekonomi keluarga,” jelas dosen pengajar antropologi yang akrab dipanggil Berni ini.

Suatu hal yang disayangkan, tambahnya, berkenaan dengan obyek wisata buatan, cenderung dibiarkan setelah penginisiatif (Gubernur/walikota/bupati) tidak lagi menjabat. Seperti yang terjadi di Arena Festival Danau Tondano dan Bukit Kasih. Padahal anggaran yang dialokasikan ke arena tersebut tidak terbilang sedikit jumlahnya.
“Semoga objek wisata buatan Bukit Kasih tidak mengalami nasib yang sama seperti Proyek Festival Danau Tondano, di mana sekarang ini tinggal bangunan-bangunan kosong dan taman danau yang sudah tidak lagi dirawat sebagaimana mestinya,” katanya lagi.

Begitu pula dengan mimpi Kota Manado akan dijadikan sebagai salah satu kota wisata dunia, adalah mimpi yang sesungguhnya bisa diwujudkan. Sayang sang pemimpinya (Jimmy Rimba Rogi), mantan walikota Manado tak dapat melanjutkan mimpinya karena tersangkut kasus korupsi. Untuk itu, diharapkan kepada walikota Manado yang memegang kekuasaan saat ini, diharapkan bisa melanjutkan dan mewujudkan mimpi tersebut. “Tentunya secara terpadu bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota di sekitarnya.”

Ia mengungkapkan, banyak sekali obyek wisata di Sulut yang bisa diandalkan untuk meraup devisa. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa objek-objek wisata yang dimaksud itu, belum secara maksimal digarap atau pun disosialisasikan ke publik terutama ke mancanegara. Hal ini boleh jadi telah mempengaruhi dinamika kehidupan kepariwisataan di daerah ini tidak mengalami perubahan atau peningkatan yang berarti bagi kepentingan ekonomi masyarakat, dikarenakan wawasan atau wacana tentang pariwisata yang ada semata-mata hanyalah Bunaken.

Kenyataan ini, sudah tentu perlu diinformasikan secara lebih luas berkenaan dengan obyek-obyek wisata yang dapat diandalkan untuk meningkatkan pendapatan daerah, maupun masyarakat setempat.

Dijelaskannya, industri wisata, secara sistemik/holistic mencakup tersedianya infrastuktur yang memadai (listrik, telepon, sumber air besih, sarana perhotelan dan jalan). Kecuali itu, adanya sumber-sumber obyek wisata yang menawan/indah dan eksotik (alam, sejarah/kepurbakalaan, seni-budaya, kuliner, cendramata dan sebagainya). Juga ditunjang oleh adanya kualitas sumberdaya manusianya (pelaku-pelaku yang mengelola industri wisata baik dari sektor pemerintah/birokrat terkait maupun dari sektor swasta.” Dan hal yang sangat penting dalam menunjang berhasilnya suatu industri wisata adalah baik dari pihak pemerintah setempat maupun masyarakat senantiasa memelihara kebersihan serta menjaga suasana tetap aman.”

Meskipun secara sistemik industri wisata yang dimaksud di atas telah dipenuhi secara maksimal, tambah Kusen, suka tidak suka semuanya ditentukan oleh pihak wisatawan (pasar) yang tertarik dan memutuskan untuk berkunjung ke daerah di mana industri wisata tersebut dibuat. Wisatawan atau dikenal sebagai turis adalah orang-orang yang melakukan aktivitas kunjungan wisata, di mana sejak dari tempat asal tertarik untuk berkunjung ke tempat tujuan wisata, dengan harapan tempat tersebut menarik, aman, dan memuaskan. “Bagaimana agar harapan para wisatawan ini terpenuhi, tentunya memerlukan keterlibatan semua pihak yang secara aksional bisa berperanserta menciptakan pola strategi pemasaran wisata yang bermakna bagi pengembangan industri wisata sebagaimana yang diharapkan,” pungkasnya.

Jeffry Th. Pay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *