DPP APDESI
Sulut  

John Mapaliey, Tunanetra yang Tetap Eksis Mencipta Lagu dan Menginjil

John Mapaliey
Langowan, Fajarmanado.com – Nama John Mapaliey, sudah tidak asing dalam dunia seni suara di Tanah Minahasa. Betapa tidak, ia sudah mencipta lebih dari 200 lagu rohani. Lagu-lagunya sudah sangat populer dinyanyikan dalam berbagai lomba paduan suara, baik di lingkungan tanah Minahasa, maupun di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan di luar negeri sudah banyak yang menyanyikan lagu-lagunya.

Menjelang usianya yang ke-80 pada 20 Juli 2017 ini, John ternyata masih tetap mencipta lagu, dan melakukan pelayanan penginjilan di berbagai tempat.

Pada hari Minggu (14/05/2017) kemarin, ia berkesempatan hadir dalam ibadah bersama dengan Jemaat GMIM Sion Noongan, Wilayah Langowan Kelelondey, Minahasa. Dalam ibadah yang dipimpin Pnt Ivone Walukow-Pangaila, ia diberi kesempatan memberi kesaksian. Ia mengaku bukan sebagai seorang penyanyi, tetapi diberi karunia untuk menciptakan lagu.

Dalam kesaksiannya, sambil menangis ia menyatakan teringat akan peran Ibuya yag pernah merawat dan membesarkan dia sejak kecil. Yang tak pernah ia lupakan adalah ketika ia pada masa kecil sudah dibacakan Alkitab oleh Ibunya setiap hari, mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu. “Ada dua tahun saya mendegarkan Ibu saya membacakan Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu,” ujar John.

Menurut John, pada waktu lahir ia lahir normal dan melihat dengan jelas. Tapi pada usia 7 tahun, ia megalami musibah, karena sakit dan ternyata salah mengkonsumsi obat, sehingga akhirnya ia mengalami kebutaan.  “Orang tua saya sangat terpukul degan keadaan itu. Dan saya juga merasakan penderitaan. Tapi Ibu saya selalu megajarkan kata sabar. Dan kata sabar itulah yag membagkitkan semangat hidup saya. Saya harus bagkit dari keadaan itu, sampai akhirnya saya bertekad untuk berkarya bagi banyak orang meskipun saya buta,” tutur John sambil sesekali menyapu air matanya.

Berdasarkan dari pembacaan Alkitab, ia pun terdorong untuk menciptkan lagu-lagu rohani. Semua ciptaannya terinspirasi dari ayat-ayat Firman Tuhan. Dan tidak disangka lagu-lagunya menjadi populer di kalangan gereja. Dari banyaknya ciptaan lagu itu, ia pun mendapat penghargaan Rekor MURI sebagai pencipta lagu rohani terbanyak. Dan oleh karena lagu-lagunya sudah populer, ia kemudian disarankan untuk membuat hak cipta (hak patent) bagi lagu-lagunya itu. Dengan harapan ia bisa menerima royality bila ada yang menyanyikan lagunya untuk tujuan komersial. “Namun, saya pribadi tidak perlu meminta imbalan dari hasil karya saya itu. Biar saja orang mau menyanyikannya, karena itu adalah pemberian Tuhan, untuk memuliakan NamaNya,” kata John lagi.

Meskipun demikian, atas saran itu, ia mencoba mendaftarkan lagu-lagunya untuk menerima hak patent. “Tapi, apa daya setelah saya mengkonfirmasikan pengurusan hak patent, ternyata setiap lagu harus membayar Rp 750.000. Karena saya tidak mampu, saya akhirnya tidak jadi mengurus hak patent,” jelas John, yang saat ini menjadi Penasihat Komisi Fungsional Lansia di Jemaatnya, di Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan.

Selain mencipta lagu, ia juga sering melakukan penginjilan di berbagai tempat, baik di Tanah Minahasa, maupun di berbagai daerah di Indonesia. “Meskipun saya sudah usia lanjut, tapi saya ingin terus berkarya dan mengabarka Injil. Karena itu saya juga berharap seluruh warga GMIM untuk terus melayani Tuhan, dan mengabarkan Injilnya,” pungkasnya.

Jeffry Th. Pay

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *