Ratahan, Fajarmanado.com – Terobosan Bupati James Sumendap SH untuk mendukung eksisnya industri kuliner lokal di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) maupun Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terancam tertunda. Pasalnya, Rp1,5 miliar dana pembangunan rumah kemasan belum bisa digunakan.
Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN 2017 tersebut masih terparkir karena petunjuk teknis (Juknis) pelaksanaan proyeknya belum juga diberikan Kementerian Perindustrian.
“Sampai saat ini kami belum bisa memulai pembangunannya karena terkendala belum adanya Juknis. Karena pengelolaan ini harus sesuai Juknis,” kata Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Billy Munaiseche kepada wartawan di Ratahan, (21/07/2017).
Pedoman teknis itu, katanya, tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 123 tahun 2016 tentang petunjuk teknis DAK fisik, yang dikeluarkan kementerian atau lembaga.
“Dalam aturan tersebut menyebutkan, standar teknis bidang DAK fisik mengacu pada petunjuk teknis yang dikeluarkan kementerian atau lembaga. Namun sampai saat ini belum ada juknis dari Kementerian Perindustrian,” jelasnya.
Dia mengaku, akibat belum adanya Juknis tersebut pihaknya terpaksa belum melakukan proses tender untuk pembangunan.
“Untuk desain bangunan, kami belum tahu persis. Makanya kami akan meminta petunjuk dan berkonsultasi dengan pihak kementerian, termasuk untuk mencari solusi terkait pembangunan rumah kemasan ini,” katanya.
Mengenai peralatan yang akan melengkapi rumah kemasan ini, menurut Billy, pihaknya akan menyesuaikan dengan kondisi daerah.
“Kami tentunya akan melihat kondisi daerah, serta kebutuhan yang ada. Selain itu kami juga akan menyiapkan operatornya,” tandasnya.
Seperti diketahui, produk kuliner khas Sulut masih sangat sulit bersaing di pasaran bebas karena tidak didukung dengan kemasan yang menarik dan sesuai dengan standar kesehatan.
Selama ini, para pengusaha kecil daerah ini harus memesan khusus kemasan di rumah kemasan yang berada di Pulau Jawa.
“Untuk melakukan pemesanan, harus menyediakan puluhan juta sebab harus dipesan dalam jumlah yang banyak sehingga butuh modal yang besar,” kata Marlon Mongdong, SE, pemilik produk kacang sangrai Mona Kawangkoan ini.
Selain modal yang besar, katanya, pengusaha kecil luar Jawa harus pula menanggung resiko ongkos kirim yang relatif besar. “Kalau sudah ada di daerah kita, tentu akan sangat membantu meringankan beban biaya kemasan,” ujarnya.
Editor : Herly Umbas