Amurang, Fajarmanado.com – Ironis! Kendati belum lama dibangun kembali, Jalan Trans Sulawesi di Kelurahan Bitung Kecamatan Amurang, Minahasa Selatan (Minsel), masih saja menjadi langganan banjir.
. Pasalnya, setiap hujan lokasi ini tertutup air lebat alias banjir. Akibatnya, banyak kendaraan roda dua terjebak mati mesin. Namun, masih untuk kendaraan roda empat dan lainnya tidak mati mesin kalau melewatinya.
Dari amatan Fajarmanado.com setiap hujan mengguyur lebat, ruas jalan dua jalur tersebut selalu saja terendam air. Ketinggiannya mencapai kisaran 30 CM hingga 60 CM.
Banjir di jalan nasional ini tak jarang menyebabkan sepeda motor mati mesin dan menjadi pemicu perdebatan antarasopir kendaraan bermotor dan pejalan kaki akibat air yang tergenang memancar ketika dilindas ban mobil yang dipacu kencang.
‘’Ya, bagi kami warga sekitar sudah biasa melihat pemandangan sepeti itu,” komentar tokoh masyarakat Minsel, Decky Mintje.
Bagi warga Amurang, katanya, telah mengetahui persis keberadaan di beberapa titik ruas jalan tersebut. Jika baru selesai hujan lebat, pasti akan perlahan-lahan melintasi jalan ini.
“Jadi kami sudah tahu, kalau ada sepeda motor atau mobil yang lari kencang di jalan ini pasti bukan orang yang sering lewat di sini,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa kwalitas pembuatan dan pekerjaan pengaspalan dinilai sebagai penyebab utama karena di beberapa titik jalan bergelombang. “Ini harus diperbaiki,” kata pengusaha konstruksi ini.
Mintje kemudian mengajak para pejabat instansi terkait untuk memantau keberadaan genangan air ketika hujan lebat di jalan tersebut. Banyak media yang sudah pernah mengekspos masalah ini.
“Entah mengapa, sampai sekarang belum juga ada perhatian dari pemerintah,” imbuhnya.
Senada dikatakan Welly Rungkat. Warga Kelurahan Bitung ini bahkan menyatakan kecewa dengan pimpinan Balai Pembangunan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah XI Sulut karena terkesan bersikap acuh.
“Karena dibiarkan terus begini, masyarakat pun berinisiatif memajang papan peringatan “Langganan Korban Banjir” di antara jalan dua jalur ini,” ungkapnya.
Baik Mintje maupun Rungkat mengingatkan pimpinan BPJN bahwa keberadaan jalan yang dibangun asal jadi tersebut menjadi bukti bahwa BPJN tidak melakukan perencanaan atau pengawasan yang baik terhadap konstraktor pelaksana proyeknya.
“Sebetulnya mereka harus sadar bahwa jalan ini sering dilewati para pejabat,” ujar Mintje sambil mengisyaratkan supaya para petinggi Sulut dapat pula menyikapi hal ini.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas PU Minsel, Jootje Tuerah, ST MM mengatakan jika pihaknya telah beberapa kali berkoordinasi dengan Dinas PU Sulut dan BPNJ Sulut.
“Bahkan atas perintah bupati, saya sudah beberapa kali bertemu langsung dengan mereka tapi belum juga ada upaya perbaikan dengan mengalokasikan dana pemeliharaan,” ungkap pejabat yang dikenal loyal terhadap atasan ini.
(andries)