Sonder, Fajarmanado.com — Desa Leilem, Kecamatan Sonder, Minahasa dianggap layak terpilih sebagai juara Lomba Desa Tingkat Provinsi Sulut untuk bersaing di tingkat nasional.
Ada sederetan keunggulan desa yang dikenal luas dengan industri meubel ini. Tingkat partisipasi masyarakat, yang masih kental menerapkan budaya gotong royong, yang di Minahasa dikenal dengan sebutan Mapalus, ini tak bisa terbantahkan.
Setiap hari Senin, masyarakat setempat belum beraktivitas untuk kepentingan pribadi atau keluarga, namun hanya memanfaatkan hari kerja ini ramai-ramai kerja bakti membersihkan kampung halaman atau mendukung program-program pemerintah bersama Badan Perwakilan Desa (BPD) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
Tak heran, desa yang sudah memekarkan diri jadi tiga desa ini kini telah memiliki kantor dan gedung serba guna (GSG) dan tercatat paling megah di banding 226 desa dan 43 kelurahan di Minahasa.
Hebatnya lagi, sebagian besar dana pembangunannya berasal dari swadaya masyarakat, padahal nilainya ditaksir melebihi Rp.1 miliar.
Bantuan pemerintah, tercatat hanya sebesar Rp150 juta, yang diberikan oleh Bupati Minahasa, ketika itu, Drs. Jantje Wowiling Sajow, MSi.
Pantauan Fajarmanado.com, Jumat (31/5/2019), sore tadi, satu bangunan permanen yang memanjang di sisi jalan desa itu, terdiri dua bagian yang utuh.
Di sisi Selatan berupa GSG yang memiliki lapangan bulu tangkis. Sedangkan separoh di sebelah Utara berlantai dua.
Lantai pertama ada dua ruangan. Satu berfungsi sebagai ruang sekretariat desa lengkap dengan pajangan beragam profil desa, dan ruang lainnya adalah Kantor TP PKK.
Ketika menaiki tangga, di bagian teras tampak lemari memanjang. Pada rak-rak lemari itu tertata rapi aneka buku. Tiga gadis belia terlihat duduk di sofa di depan lemari buku itu dan serius membaca.
Memasuki bagian dalam, terdapat enam ruangan saling berhadapan, yang masing-masing berukuran sekitar 4×4 meter. Di bagian atas pintu masuk tiap ruangan, tergantung papan kecil bertuliskan, antara lain, BPD, LPM dan Karang Taruna.
Selain itu, Desa Leilem ternyata juga telah memiliki website desa sehingga berbagai informasi, mulai dari sejarah sampai potensi desa dapat diikuti dengan mendownload https:/ddesaleilem.wordpress.com.
Sementara itu, sumber panitia lomba desa tingkat Provinsi Sulut memberi bocoran apabila nilai Desa Leilem sangat mendominasi untuk menjadi juara Lomba Desa tingkat Provinsi Sulut 2019.
“Tinggal menunggu hasil akhir. Tunggu saja, mudah-mudahan tidak berubah,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.
Meski begitu, Hukum Tua (Kumtua) Desa Leilem, Vicktor Roring tak mau sesumbar menyatakan keyakinannya apabila Desa Leilem menjuarai Lomba Desa tingkat Provinsi Sulut 2019 ini.
“Menghadapi penilaian ini, saya memang serba salah karena ini kampungnya pula dari Pak Bupati (Ir. Royke Oktavian Roring, MSi). Apalagi, saya semarga dengan beliau, Roring,” komentarnya ketika dihubungi tadi malam.
Ia mengungkapkan, saat Desa Leilem dinilai sebagai juara di tingkat Kabupaten Minahasa, bupati sempat kaget. Sehingga, ia menanyakan langsung keabsahan hasilnya kepada panitia lomba, jangan sampai karena Leilem adalah desanya beliau.
“Saingan utama kami saat itu adalah Desa Kanonang Satu,” ungkapnya.
“Setelah kami berbincang dan mengungkapkan apa saja yang jadi unggulan masing-masing, Kumtua Lucky Sondakh mengaku masih banyak kekurangan. Termasuk, soal website desa, Kanonang Satu ternyata belum ada,” sambung dia.
Soal penilaian lomba tingkat provinsi, Kumtua Vicktor Roring menyatakan, menyerahkan sepenuhnya kepada panitia.
“Saya pribadi menyerahkan sepenuhnya kepada panitia. Apapun hasilnya, saya terima. Saya yakin, panitia akan bekerja profesional karena pada akhirnya untuk nama baik Provinsi Sulut di tingkat nasional,” ujarnya.
Penulis: Herly Umbas