DPP APDESI

Wisata Alamnya Belum Tersentuh, Begini Sikap Pemdes Kayuuwi dan Kiawa Satu Barat

Suasana kerja bakti di jalan usaha tani Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat menuju lokasi pembukaan jalan baru ke air terjun Nimanga. Foto: Istimewa.
Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com — Pesona alam Hutan Pararangen di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dinilai amat potensial ditata menjadi kawasan wisata baru.

Hutan yang berada di wilayah Kecamatan Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat itu, dihiasi dengan tak kurang lima air terjun.

Kian menakjubkan lagi, hutan lindung sekaligus hutan margasatwa tersebut dihuni oleh aneka hewan langka, tak tetkecuali tarsius spectrum.

Suhu airnya pun, beraneka. Selain lazimnya, dingin, juga ada air panas dan air suam-suam kuku.

Di wilayah Desa Kiawa Satu Barat, Kecamatan Kawangkoan Utara, oleh almarhum Jantje Worotitjan, SE pernah dirintis penataan objek wisata Laundano atau wanita air sehingga sempat digelar pemilihan Putri Laundano pada tahun 1992.

Sayangnya, objek wisata Laundano yang dilengkapi jejak Viadolorosa, patung Bunda Maria dan tempat-tempat khusus berdoa itu tidak dikelola profesional sehingga kini sudah terbengkalai.

Pemerintah dikabarkan belum juga menyentuh penataan kawasan objek wisata yang telah banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara itu.

Konon, di dasar lembah Hutan Pararangen, di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Nimanga itu, sempat didiami seorang putri nan cantik, sehingga menarik minat para ‘tonaas’ setempat berkumpul dan melakukan rapat.

Tak heran, di dasar lembah hutan itu, ada batu datar berbentuk meja yang dikelilingi batu-batu kecil lainnya sebagai tempat duduk.

Kepala Desa Kiawa Satu Barat, Reiner Kaunang mengatakan, pihaknya telah merencakanan untuk menata kembali dan mengelola objek wisata Laundano tersebut.

“Persoalannya, kawasan itu ada pemiliknya. Yakni, ahli waris Om Jantje. Saya akan bicara dengan anak-anak almarhum. Semoga saja mereka mau bekerjasama dengan pemerintah desa,” ujarnya kepada Fajarmanado.com, Jumat (19/7/2019).

Menurut Kaunang, sesuai data tercatat sekitar 96 hektar kawasan Hutan Pararangen dan perkebunan sekitar yang sudah dibeli keluarga besar Alm. Jantje Worotitjan. Baik yang ada di wilayah Desa Kiawa Satu Barat maupun di Desa Kayuuwi.

“Kalau terjadi kesepakatan, kami akan bermusyawarah bersama BPD dan tokoh masyarakat untuk menyisihkan dana desa menata objek wisata Laundano,” katanya.

Penampakan air terjun Nimanga.

Beda dengan pemerintah desa (Pemdes) Kiawa Satu Barat, Pemdes Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat, bersama BPD dan tokoh masyarakatnya sudah menyepakati menyisihkan Rp.300 juta dari dana desa tahun 2020 nanti untuk melanjutkan pembukaan jalan baru sampai ke lokasi air terjun Nimanga, yang hanya berjarak sekitar 300 meter dengan air terjun Rano Asem.

“Pembukaan jalan menuju ke sana sudah beberapa kali kami rintis secara swadaya. Malahan, sebagian jalannya telah kami bangun dengan rabat beton,” kata Kades Kayuuwi, Willem Raintung.

Ditemui terpisah, pensiunan ASN Dinas Pendidikan Minahasa itu mengatakan, pembukaan jalan sampai ke lokasi air terjun Nimanga, berbatasan dengan Desa Kiawa Satu Barat butuh biaya besar.

“Sudah disurvei tenaga teknis, ada tebing yang harus digusur, tingginya mencapai sekitar 10 meter agar kendaraan bisa leluasa masuk ke luar,” jelasnya seraya menyebut panjang jalannya sekitar 1,8 kilometer.

Keberadaan alam di kawasan ini, lanjut dia, sangat eksotis, apalagi jika dilengkapi dengan aneka wahana wisata, termasuk kolam renang.

“Target utama kami membuka jalan. Selanjutnya, terserah para pemilik lahan apa yang mau mereka siapkan, apakah cottage atau lainnya,” katanya.

Penulis: Herly Umbas