DPP APDESI

Virus Nipah Muncul di India, Indonesia Waspada dan Perketat “Pintu Masuk”

Pemerintah Indonesia mewaspadai masuknya virus Nipah yang muncul di India pada Januari 2026 ini. Foto: Ilustrasi/Ist.

Denpasar, FajarManado.News — Kasus virus Nipah di West Bengal, India muncul di India awal Tahun 2026 ini. Ancaman virus yang memiliki tingkat kematian sampai 75 persen ini, memicu respons cepat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Berdasarkan laporan situasi per 28 Januari 2026, belum ada temuan kasus yang dikonfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia.

Meski masih berstatus bebas kasus, pemerintah Indonesia tetap waspada dengan memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk negara, baik bandara maupun pelabuhan.

Bahkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menginstruksikan peningkatan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan bagi pelaku perjalanan yang memiliki riwayat dari wilayah terjangkit.

Walaupun belum ada terdeteksi kasus infeksi virus Nipah, ia mengatakan skrining sudah disiapkan termasuk menyiap reagen PCR untuk virus Nipah.

Yang diperketat saat ini, deteksi dini di pintu kedatangan dari luar negeri di bandara-bandara dan pelabuhan.

“Kita sudah siapkan reagen-reagennya. Jadi kalau ada yang dicurigai, batuk enggak sembuh-sembuh kan ini (virus Nipah) juga batuk, kita screening. Jadi tahu itu batuknya apa, karena virus influenza, virus COVID atau virus Nipah,” tutur Budi saat berkunjung di Bandara Ngurahrai, Bali.

Saat ini reagen untuk pemeriksaan tes Nipah berada di Kementerian Kesehatan yang bakal didistribusikan di laboratorium milik Kemenkes di seluruh Indonesia.

“Jadi kalau ada yang dicurigai, kita bisa langsung distribusikan ke lab daerah,” tuturnya.

Muncul di India

Wabah ini pertama kali terdeteksi pada 12 Januari 2026 di Distrik North 24 Parganas, West Bengal. Dua pasien konfirmasi positif merupakan perawat berusia 25 tahun yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Barasat.

Kasus pertama, seorang perawat wanita yang memiliki riwayat perjalanan ke Distrik Nadia, wilayah yang berbatasan langsung dengan Bangladesh, tanggal 14-17 Desember.

Kemudian pada 30 Desember 2025, pasien sempat mengalami batuk, demam tinggi. Lima hari kemudian, tanggal 4 Januari 2026, kondisinya memburuk sampai kehilangan kesadaran. Saat ini dalam kondisi kritis menggunakan ventilator.

Kasus kedua, seorang perawat laki-laki yang sempat kontak dengan kasus pertama di saat bekerja bersama pada 20-21 Desember. Pada tanggal 27 Desember, dia menunjukkan gejala demam, gangguan saraf, dan kejang. Berbeda dengan kasus pertama, kondisi pasien ini dilaporkan mulai membaik.

Hasil pemeriksaan RT-PCR pada 13 Januari 2026 secara resmi menyatakan keduanya positif virus Nipah. Selain itu, 3 nakes lain (termasuk dokter) kini berstatus suspek karena memiliki riwayat merawat pasien tersebut.

Kementerian Kesehatan India mengatakan pada Selasa (27/1) bahwa dua kasus Nipah telah terdeteksi sejak Desember 2025 dan semua kontak yang teridentifikasi telah dikarantina dan diuji. Kementerian tidak merilis detail tentang pasien tetapi mengatakan 196 kontak telah dilacak dan semuanya dites negatif.

“Situasinya terus dipantau, dan semua tindakan kesehatan masyarakat yang diperlukan telah diterapkan,” kata kementerian dikutip dari NBC News.

Menyebar dari Kelelawar Buah

Nipah, virus zoonosis yang pertama kali diidentifikasi selama wabah tahun 1990-an di Malaysia, menyebar melalui kelelawar buah, babi, dan kontak antar manusia.

Tidak ada vaksin untuk virus yang dapat menyebabkan demam tinggi, kejang, dan muntah ini.

Satu-satunya pengobatan adalah perawatan suportif untuk mengendalikan komplikasi dan menjaga kenyamanan pasien.

Virus Nipah memiliki perkiraan tingkat kematian antara 40% dan 75%, menurut WHO, menjadikannya jauh lebih mematikan daripada virus corona.

Tidak ada kasus virus yang dilaporkan di luar India, tetapi beberapa negara Asia memperkenalkan atau memperkuat langkah-langkah pemeriksaan di bandara sebagai tindakan pencegahan.

Langkah-langkah keamanan tersebut diberlakukan setelah laporan media awal dari India menunjukkan lonjakan kasus, tetapi otoritas kesehatan mengatakan angka-angka tersebut “bersifat spekulatif dan tidak akurat.”

[**heru]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *