DPP APDESI

Menkes Ajak Masyarakat Lakukan Germas Melalui TOSS

Menkes Ajak Masyarakat Lakukan Germas Melalui TOSS
HARI TB SEDUNIA: Plt Asisten I Drs. Roy Mewoh, DEA melepas balon Hari TB Sedunia di Lapangan Kantor Gubernur, Jalan 17 Agustus Manado.
Manado, Fajarmanado.com – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Prof. Dr. dr Nila Farid Moeloek, Sp.M.(k) mengajak masyarakat memulai pola Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Tuberkolosis melalui TOSS (Temukan Tuberkolosis Obati Sampai Sembuh).

Menkes Moeloek mengungkapkan hal tersebut pada upacara peringatan peringatan Hari Tuberkolosis Sedunia (HTBS), Jumat (07/04/2017). Untuk tingkat Provinsi Sulut, sambutan Menkes ini dibacakan Plt Asisten I Drs. Roy Mewoh, DEA di Lapangan Kantor Gubernur, Jalan 17 Agustus Manado.

Tema peringatan HTBS 2017  adalah TOSS. Tantangan dalam pencegahan dan pengendalian tuberkolosis (TB), menurut Menkes,  adalah menemukan dan mengobati semua penderita TB sampai sembuh.

“Hal ini agar semua penderita TB di Indonesia dapat kembali sehat, hidup berkualitas dan produktif,” katanya.

Untuk mewujudkannya, harus dilakukan peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, dan peningkatan edukasi hidup sehat.

Menkes menyambut baik terobosan yang dilakukan pada peringatan Hari TB sedunia yaitu  mewujudkan ketuk 100.000 pintu diseluruh Indonesia. “Ketuk 100.000 pintu ini diharapkan dapat mengendalikan TB dan memperkuat pendekatan keluarga,” imbuhnya.

Terkait gerakan ketuk 100.000 pintu, Kepala Dinas Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo, M.Sc, PH menyebutkan, pelaksanaan ketuk pintu di Sulut mencapai 17.500 rumah dengan 47.760 orang yang telah diedukasi.

Meskipun demikian, kejadian TB di daerah ini masih cukup tinggi. “Hasil ketuk pintu ini menunjukkan jumlah kasus TB masih cukup tinggi yaitu 651/100.000 penduduk. Angka kejadian dari jumlah populasi yang dikunjungi ini melebihi angka kejadian nasional yang besarnya 399/100.000 penduduk,” ujarnya.

Debie juga mengatakan, peringatan TB sedunia untuk meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam mencegah dan mengendalikan TB.

“Pemerintah daerah berkomitmen menangani penyakit TB. Selain itu, pengetahuan dan pelibatan masyarakat untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga akan ditingkatkan,” imbuhnya.

Pengobatan TB resisten obat, lanjutnya, memakan waktu lama sehingga menimbulkan berbagai efek samping dan biaya berlipat ganda dibandingkan dengan pengobatan TB sensitif obat. Selain itu beban sosial ekonomi pasien akan meningkat bila pasien kebal obat.

Peringatan hari TB sedunia yang dihadiri ribuan peserta ini,  dirangkaikan dengan kegiatan senam jantung sehat, pelepasan balon TOSS TB dan talkshow.

(ton/ely)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *