Kawangkoan, Fajarmanado.com–Kalangan tokoh masyarakat Kawangkoan raya kompak mensuport perjuangan tokoh pers nasional, Alex dan Frans Mendur menjadi Pahlawan Nasional.
Pernyataan ini terungkap dalam diskusi terbatas dengan nara sumber Judie Turambi, SH di Cafe Glori-A House, Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat, 23 Mei 2025.
Judie didaulat tampil sebagai nara sumber karena sejarahwan dan jurnalis ini adalah penggagas dan penulis sejarah perjuangan kakak beradik, Alex dan Frans Mendur yang mengabadikan pembacaan teks proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta, di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
“Orang Kawangkoan harus bangga bukan indekos di negeri ini tapi ada tokoh pelaku sejarah yang ikut berjuang merebut kemerdekaan,seperti BW Lapian, Ch Ch Taulu dan Mendur bersaudara,” ujarnya.
Sebagai tokoh pers, kakak beradik Alex dan Frans Mendur, katanya, sangat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
“Kalau bukan Alex dan Frans Mendur ini, negara kita tidak punya foto bukti telah terjadi proklamasi kemerdekaan. Bisa-bisa dunia menganggap proklamasi itu hoax kalau tidak ada foto dari Mendur bersaudara ini,” tandas Judie, yang telah berhasil ikut menggolkan sederetan Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara ini.
Menurutnya, sejarah hidup dan perjuangan Alex dan Frans Mendur serta syarat administrasi pengusulan sebagai Pahlawan Nasional hampir rampung.
“Sudah sekitar 90 persen. Tinggal beberapa berkas lagi. Ya, seperti pendapat masyarakat dan rekomendasi bupati dan gubernur,” ungkap Judie, pria yang juga penulis buku ini.
Apresiasi
“Sebagai orang Kawangkoan, jujur kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi Pak Judie karena sudah menggagas, bahkan menyusun sejarah perjuangan Alex dan Frans Mendur,” komentar Stefen Supit SH, Ventje Mawuntu SE dan Drs Djonny Laloan, senada.
Bahkan, anggota DPRD Drs Dharma Patria Palar menyatakan akan senantiasa memberikan dukungan, termasuk dukungan politik.
“Saya siap mengawal, apabila perlu ada dukungan politik, saya akan berusaha semampu mungkin,” tandas legislator Minahasa empat periode dari PDI Perjuangan ini.
“Ya, sebagai wakil rakyat, saya sangat mendukung pula perjuangan menjadikan tokoh pers kita, Mendur basudara ini menjadi Pahlawan Nasional,” kata srikandi Banteng, Ivana Wuwungan, SE.
Diskusi Alex-Frans Mendur Pahlawan Nasional yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu, juga dihadiri dan didukung oleh Ketua Majelis Adat Kawangkoan Raya, Drs Eddy Ruata, Wakil Ketua Herly Umbas, Piet Hein Tenda, Deki Walangitan bersama sejarawan Drs Tenni GM Assa dan Magelhaes “Paskah” Mendur SPd serta salahsatu keponakan Alex Mendur, yakni Piere Mendur.
Pada saat hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno membacakan teks proklamasi di depan para hadirin di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta. Peristiwa itu diabadikan pada sebuah foto yang menjadi momen bersejarah bangsa Indonesia.
Tak banyak orang yang tahu siapa fotografer yang mengabadikan momen bersejarah Proklamasi Kemerdekaan RI hampir 80 tahun silam itu. Tak terkecuali masyarakat Kawangkoan dan Minahasa pada umumnya.
Siapa Mendur Bersaudara
Sosok fotografer itu ternyata merupakan kakak adik yang dikenal dengan nama Mendur Bersaudara. Yakni, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur.
Siapa sosok kakak beradik itu, dan bagaimana sepak terjang mereka di dunia jurnalistik dan fotografi pada era kemerdekaan?
Alexius Impurung Mendur merupakan anak pertama dari 11 bersaudara. Ia lahir di Kawangkoan pada tanggal 7 November 1907.
Alex, sapaan akrabnya, mulai belajar fotografi dari seorang fotografer bernama Anton Najoan pada tahun 1922.
Setelah 10 tahun berkarir sebagai fotografer yang dimulai ketika usia 15 tahun, maka tahun 1932 Alex Mendur menjadi jurnalis dan fotografer di surat kabar Java Bode dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beld.
Di masa pendudukan Jepang, Alex bergabung dalam barisan propaganda. Ia bekerja di kantor berita Dome yang merupakan cikal bakal kantor berita ANTARA.
Berawal dari sanalah, Alex mendapat berkesempatan untuk mengabadikan di berbagai peristiwa bersejarah. Ia kemudian menularkan bakat fotografinya pada sang adik, Frans Mendur yang datang di Jakarta kemudian. Mereka selanjutnya bersama-sama menekuni dunia fotografi.
Salah satu peristiwa bersejarah yang diabadikan Mendur Bersaudara adalah peristiwa proklamasi.
Mendapat kabar dari rekan sekerja, termasuk dari orang Jepang, pagi buta tanggal 17 Agustus 1945 itu, mereka pergi ke rumah Bung Karno sambil membawa kamera Leica dan roll film secara diam-diam.
Alex dan Frans mengendap-endap menuju Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta agar tidak diketahui tentara Jepang yang berjaga.
Momen yang dinanti pun tiba. Ir Soekarno, Mohammad Hatta, serta beberapa tokoh nasional keluar rumah membacakan teks proklamasi.
Mendur Bersaudara sontak langsung mengabadikan momen bersejarah itu.
Beberapa foto ikonik yang berhasil mereka abadikan, antara lain, momen saat Soekarno membacakan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih, serta suasana orang-orang yang menyaksikan detik-detik pembacaan teks proklamasi.
Tentara Jepang sempat mencurigai aksi itu. Alex dan Frans kemudian lari dan dikejar. Namun sempat mengubur negatif film sebelum ditangkap.
Selain momen pembacaan teks proklamasi, Mendur Bersaudara juga mengabadikan momen bersejarah lain seperti momen Panglima Besar Jenderal Soedirman dipeluk Presiden Soekarno saat kembali ke Yogyakarta pada Juli 1949, ditawannya Soekarno-Hatta pada Agresi Militer II, upacara pelantikan Soekarno-Hatta pada tahun 1950, hingga momen pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Untuk mengenang jasa Mendur Bersaudara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi mereka Bintang Jasa Utama pada tahun 2009.
Kemudian, dibangunkanlah Tugu Pers Mendur di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada 11 Februari 2013.
Selain tugu peringatan di kampung kelahiran dan masa kecil mereka, juga dibangun rumah panggung di mana dipajang sebanyak 113 foto asli karya Mendur Bersaudara, yang kini dijaga Piere Mendur.
[resmon/ten]