JG Oping Antara Isu, Hoaks dan Politik yang Mengkhawatirkan

Manado.- Jika melihat kembali sejarah politik bangsa ini, kita akan melihat kembali upaya-upaya besar pergerakan dan perjuangan para mahasiswa dalam melawan ketidakwarasan yang terjadi.

Di mata JG Oping, mahasiswa adalah elemen penting dalam sebuah sistem politik yang berjalan.

Karena itulah, apabila mahasiswa bersikap apatis, maka kekuasaan politik akan cenderung mengkhawatirkan.

Politik lalu adalah politik identitas. Isu-isu agama dan ras menjadi dagangan strategi politik oposisi untuk menarik suara.

Politik identitas seperti ini pernah dimainkan oleh Trump untuk mengalahkan lawannya saat itu, Hilary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2016.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat kabar bohong (hoaks) politik mendominasi dengan jumlah 549 temuan dari 1.610 temuan hoaks selama periode Agustus 2018-23 April 2019. Maret 2019 menjadi puncak tertinggi peredaran hoaks, yakni mencapai 453 isu hoaks.

Kategori hoaks lainnya yang menjadi temuan Kominfo adalah kesehatan 199 isu, pemerintahan 199 isu, dan fitnah 159 isu.

Selain itu, isu kejahatan mencapai 105, agama 92 isu, dan bencana alam 88 isu. Seperti yang dikutip dari databoks.

JG. Oping, mahasiswa semester akhir di universitas Negeri Manado, jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial ini, merasa bahwa kedewasaan berpolitik perlu disadari oleh para elite politik.

Menanggapi isu-isu politik pemilu kemarin, menurutnya, itu merupakan hal yang menciderai kehidupan demokrasi yang diperjuangkan tahun 1998.

“Kalo pandangan kawan-kawan mahasiswa di sini sih, ada yang memang apatis, namun ada juga yg mengecam hal-hal tersebut,” ungkapnya.

Mahasisawa angkatan 2015 ini, memiliki karier yang mumpuni sebagai mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Ilmu Sosial, tahun 2018/2019 dan berkontribusi sebagai anggota di DPM Universitas Negeri Manado saat ini.

Lelaki yang memiliki hobi mendaki yang mengidolakan Soe Hok Gie dalam perjuangan dan pemikiran ini, pun merasa bahwa masih banyak mahasiswa yang tidak mengenal Gie.

“Jujur memang kalo mendaki itu sebagai hobi saja ya, kalo tentang Soe Hok Gie saya lebih suka tentang cerita perjuangannya sebagai sosok yang mempertahankan idealisme nya,” katanya.

Ia kemudian berharap agar elite-elite politik lebih bersungguh-sungguh memperjuangkan hak-hak rakyat, serta dewasa dan bertanggung jawab dalam berpolitik.

Secara garis besar, Oping menilai bahwa elite-elite politik lebih banyak menunjukan hal-hal negatif di media, yang tanpa disadari akan berdampak buruk terhadap elektabilitas elite politik itu sendiri.

Isu-isu politik semacam identitas, meskipun itu sah-sah saja dalam dunia politik, kata dia, akan tetapi bagi orang yang berakal dan terdidik akan dinilai sebagai sebuah penurunan berpolitik.

Ditanya apa yang menjadi fokusnya ke depan, mahasiswa kelahiran Juni 1998 ini, dengan tegas menyatakan masih ingin menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.
“Penyelesaian studi sih,” tandasnya.

Penulis: Renal Wijaya Kusuma

Editor : Jerry Michael