Diduga Tak Transparan, PDP Meninggal Ini KERT dan Kontak Fisik dengan 79 Orang

Dua tenaga medis Puskesmas Tompaso tengah melakukan rapid tes terhadap sampel darah dari 20 orang yang diduga kontak erat resiko tinggi (KERT) dengan wanita PDP yang meninggal dunia dan dikebumikan di Pekuburan Umum Desa Tonsewer (Raya), Selasa (12/5/2020).
Tompaso, Fajarmanado.com — Hanya berselang sekira 14 jam setelah ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP), seorang pedagang hortikultura asal Desa Tonsewer Selatan, Kecamatan Tompaso, Minahasa, akhirnya meninggal dunia pada Selasa (12/5/2020) pagi tadi.

Wanita berusia 53 tahun ini divonis PDP di RSUD Noongan Langowan ketika masuk dan menjalani perawatan ke dua kalinya di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) sekitar pukul 15.30 Wita pada Senin (11/5/2020), kemarin.

Korban pertama kali masuk RSUD Langowan pada hari Jumat, 8 Mei 2020 dengan keluhan diare. Saat ditanya kemungkinan adanya gejala penyakit akibat virus corona, korban mengelak.

“Nanti, ketika masuk lagi Senin kemarin, barulah korban mengaku mengalami sesak nafas,” kata Kepala Puskesmas Tompaso, dr. Felix Mamesah ketika dikonfirmasi Fajarmanado.com di Puskesmas Tompaso, Selasa (12/5/2020), sore tadi.

Tindakan medis pun dilakukan. Hasil rapid test reaktif, foto toraks menunjukkan hasil phenomia dan oksigen 1 per di bawah 50.

“Jadi, tiga rekam medik menunjukkan ada gejala terinfeksi virus corona,” ujar Mamesah yang mengaku telah berkoordinasi dengan pihak dokter RSUD Noongan ini.

“Tapi, hasil resminya, kita tunggu saja hasil swab test, karena kelenjar dalam kerongkongan atau dahak korban telah diambil untuk diswabtest,” sambung pria yang terkesan responsif ini.

Tak berniat menjelekkan, Mamesah menyesalkan sikap korban yang tertutup untuk memaparkan semua kelainan atau gangguan kesehatan yang dirasakannya ketika menjalani perawatan di rumah sakit.

“Waktu masuk rumah sakit pada Jumat lalu, korban menolak apabila merasakan kelainan atau penyakit lain selain menceret. Eh.. Saat masuk lagi pada hari Senin (kemarin) baru dia mengaku merasa sesak nafas,” ujarnya.

Mamesah mengatakan, sesuai investigasi pihaknya, ada 79 orang di Desa Tonsewer raya yang meminta menjalani rapid test.

“Tapi, ada yang mengaku tidak pernah kontak dengan korban namun minta ikut dites,” ujarnya.

Meski demikian, lanjutnya, ada 20 orang yang diduga kontak erat resiko tinggi (KERT) dengan PDP meninggal ini.

“Sampel darah mereka sudah kami ambil. Sekarang sementara diperiksa,” ujarnya sambil menunjuk aktivitas pemeriksaan hasil yang tengah dilakukan dua pegawainya.

Mamesah mengatakan, upaya menangkal kemungkinan PDP ini positif Covid 19 memapar orang lain, Puskesmas Tompaso akan menyisir orang-orang yang kemungkinan memiliki kontak dengan korban di Tompaso.

“Salahsatunya, kami akan menyisir para pedagang di Pasar Tompaso yang kemungkinan sempat kontak dengan korban akhir-akhir ini,” paparnya.

Terkait dengan memutus mata rantai penyebaran Covid 19, Mamesah mengharapkan agar setiap orang yang merasakan gejala, apalagi yang tengah ditangani tenaga medis untuk secara terbuka dan polos memaparkan apa saja yang tengah dirasakan.

“Jangan disembunyikan demi kesembuhan kita dan demi orang-orang yang berada di sekitar kita,” katanya.

Seiring dengan itu, Mamesah menghimbau masyarakat agar senantiasa mematuhi anjuran pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid 19.

“Terapkan social distancing dan physical distancing, rajin cuci tangan dan membiasakan diri pakai masker apabila mendesak ke luar rumah,” pinta dokter yang terkesan responsif dan familiar ini.

Pemakaman PDP ini dilakukan sesuai Protap Kesehatan Covid 19 di pekuburan umum masyarakat Desa Tonsewer, Selasa,  sore tadi.

Penulis: Herly Umbas