Sonder, Fajarmanado.com — Diduga sudah lama dipraktekkan, Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi menjadi ‘lahan keuntungan ekstra’ dari pemilik dan atau pengelola maupun karyawan operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Disinyalir pula, seakan sudah berbagi jatah, pemilik dan atau pengeloala SPBU, meraup untung ekstra dari ‘penjualan gelap’ BBM jenis Solar, sedangan karyawan/operator SPBU, penjualan BBM jenis Pertalite.
“Ini seakan sudah menjadi rahasia umum. Anda mau bukti, sudah ada beberapa SPBU di daerah kita, Sulut yang dipolisline dan dispensernya disegel Pertamina,” ujar sumber pemerhati sosial yang enggan disebutkan namanya.
Pria yang blak-blakan mengaku takut berurusan dengan mafia migas ini mengungkapkan bahwa penjualan BBM jenis Pertalite yang mengangkangi aturan sangat-sangat transparan.
Meskipun antrean kendaraan bermotor (ranmor) telah mengular, operator SPBU tetap saja melayani pengisian Pertalite pada wadah galon. Tak pandang waktu, malam, pagi maupun siang hari.
“Ya, memang so begitu tu kenyataan. Ndak heran kalu banyak pertamini di pinggir jalan,” komentar sopir angkutan umum yang sehari-hari melintas di jalan utama Sonder-Tomohon.
Sumber lain, kemudian menunjuk fakta yang terjadi di SPBU Kolongan Atas, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa sebagai contoh.
Dalam tangkapan layar pada tanggal 24 Mei 2021 Pukul 20.23 Wita tersebut, petugas sedang mengisi Pertalite di antara beberapa galon yang berada dalam mobil jenis minibus putih, sementara si sopir berdiri sambil menghitung uang.
Berbeda dengan Pertalite praktik penjualan Solar bersubsidi ilegal, relatif kucing-kucingan. Biasanya, kata sejumlah sumber senada, berlangsung pada saat SPBU tutup pada malam hari dan lampu sudah dipadamkan.
Sejumlah sumber senada mengungungkapkan, tak jarang melihat ada mobil truk maupun lakbak terbuka yang memuat drum muncul dan parkir di samping dispenser Solar pada malam atau dini pagi, saat lampu sudah dipadamkan.
Di saat gelap itu, samar-samar terlihat ada aktivitas. “Yang pasti, kata sumber, sebelum SPBU buka kembali sekitar jam 5 pagi, tidak ada lagi mobil yang parkir di samping dispenser Solar.
Meski demikian, mereka juga senada tidak bisa memastikan apabila aktivitas yang terlihat tersebut sedang melakukan pengisian Solar dalam drum-drum atau tangki truk yang dimodifikasi.
‘’Yang saya amati, SPBU ini biasanya buka pagi sekitar jam 5 namun ternyata jam 12 siang disampaikan petugas SPBU (solar) sudah habis dengan lansung memasang pemberitahuan, ‘BBM Solar Akan Tersedia Kembali,’’ ujarnya.
“Masih syukur jika kita antri dari pagi bisa dapat namun bagi yang antri belakangan sampai siang tidak dapat lagi maka itu jelas ada hal yang tidak beres,’’ ungkap sumber lain yang acap kali mengantri solar di SPBU dimaksud.
Bahkan, mereka berani memastikan bahwa sebenarnya solar masih ada hanya saja stok yang ada disalurkan malamnya saat SPBU sudah akan tutup.
‘’Bukan rahasia lagi jika tengah malam ada yang mengisi solar di atas jam 22.00 ke atas sampai dini hari. Padahal siangnya disebut sudah tidak ada stok,’’ kata mereka lagi.
‘’Pernah ada tim dari kepolisian memantau namun saat itu aktifitas sepertinya tidak ada.’’ lanjut sumber.
Meski demikian, mereka senada mempertanyakan bagaimana mungkin antrean paling tinggi 15 mobil jenis dump truck atau truck muatan hanya pagi sampai siang bisa menghabiskan pasokan sekira 8000 liter.
Sementara rata-rata yang mengisi hanya untuk aktivitas pekerjaan bukan untuk diperjual belikan.
Karena itulah, mereka mensinyalir jika operator BBM Solar di SPBU tersebut sengaja membatasi penjualan setiap stok dan menahan sebagiannya dalam bunker penyimpanam untuk dilego ke konsumen industri.
“Makanya, kami meminta pihak terkait untuk menindak hal ini. Sebab, bisa diduga Solar dijual ilegal dengan harga agak lebih tinggi dengan harga subsidi dan pertalite dengan harga subsidi tapi disertai uang tip untuk karyawan,’’ tutur sumber.
Sementara, Lidya Rondonuwu, Manajer SPBU Sonder membantah tudingan penjualan BBM jenis Solar secara ilegal.
“Itu tidak benar. Mungkin saja ada yang baru datang, setengah jam atre, kebetulan stok habis,” komentarnya, Selasa (8/11/2022).
Dihubungi melalui panggilan WhatsUp pagi tadi, didampingi Glen, petugas operatornya, Lidya juga membatah tudingan membatasi penjualan Solar kepada mobil-mobil yang antre setiap ada stok.
“Tidak benar hanya sekitar 15 mobil yang kami layani. Kami buka setiap jam 5 pagi sampai siang. Lokasi SPBU kami sangat strategis. Apabila di Kawangkoan habis stok, kebanyakan lari datang antre di sini,” kilahnya.
Ia mengakui volume 8 ribu liter tak masuk akal hanya melayani sekitar 15 kendaraan jenis truk.
Soal adanya mobil-mobil yang parkir dalam kawasan SPBU saat tutup, Lidya mengatakan soal biasa. Pihaknya tidak pernah melarang.
Lantas, bagaimana dengan laporan adanya aktivitas pengisian di saat SPBU tutup dan lampu padam di malam hari hingga dini pagi, Lidya dengan tegas juga membantah. “Itu tidak benar,” tandasnya.
Begitu pun dengan pemberian tip untuk karyawan yang melakukan pengisian Pertalite dalam galon. “Itu le ndak butul,” katanya.
[Tim]