DPP APDESI

Pertarungan Cabor Pacuan Kuda PON XIX/2016 Digelar Sesuai THB

Pertarungan Cabor Pacuan Kuda PON XIX/2016 Digelar Sesuai THB
Ilustrasi © NS/PON-PEPARNAS2016JABAR
BANDUNG, Fajarmanado.com — Panitia pelaksana Cabor Pacuan Kuda PON XIX/2016 akan tetap melaksanakan pertandingan sesuai kesepakatan dalam Technical Hand Book (THB) yang sudah ditanda tangani dan disosialisaikan PB PON XIX/2016.

Panpel Cabor Pacuan Kuda PON XIX/2016 tak memedulikan beberapa daerah yang menolak aturan wild card yang tercantum di THB menjelang pertandingan yang digelar 28 September. Pada THB tersebut dijelaskan, dua kuda tuan rumah secara otomatis masuk final di setiap kelasnya. Hal itu membuat beberapa daerah yang diorganisasi DKI Jakarta meradang. Padahal pada saat penyisihan, daerah-daerah yang kini menolak tersebut tetap mengikuti penyisihan sesuai THB.[irp]

“Technical hand book sendiri, kan, sudah disepakati sebelumnya, sudah disosialisasikan, dan ditetapkan dalam pertemuan manager meeting sebelum PON dimulai. Tapi, setelah babak penyisihan digelar, kontingen DKI Jakarta justru mempermasalahkan ketentuan wild card tersebut dan mengajak kontingen provinsi lain untuk mengajukan protes. Sudah ada beberapa daerah yang menarik kembali penolakannya karena sadar bahwa itu tidak benar,” ungkap ketua panpel berkuda, Yeyen Rusyana Dian, di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Senin (26/09/2016).

Hal senada diungkapkan Ketua Umum PP Pordasi, Mohammad Chaidir Saddak. Ia mengatakan, setiap kontingen provinsi peserta bisa kembali menyamakan visi sehingga event pacuan bisa terselenggara dengan baik.

“Pertandingan nomor pacuan di PON ini memang baru pertama kali dilakukan jadi wajar kalau ada sedikit ketidakserasian. Tapi, kami harapkan setiap provinsi kembali pada aturan awal yang sudah disepakati yakni sesuai dengan technical hand book. Termasuk terkait aturan wild card bagi kuda-kuda tuan rumah Jabar,” ujar Eddy. Dia berharap, setiap provinsi peserta menaati aturan dan tidak memotongnya di tengan pelaksanaan pertandingan. Pasalnya, dalam olahraga berkuda, pemenang lomba baru ditentukan setelah laga digelar.[irp]

“Jadi setiap provinsi peserta punya kesempatan yang sama. Siapa pun bisa jadi juara di nomor pacuan, tidak selalu tuan rumah. Buktinya di nomor equestrian, DKI Jakarta bisa menjadi juara umum mengalahkan Jabar. Jadi saya yakin kita bisa satu suara dan kembali pada aturan di technical hand book,” ucapnya.

(PQ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *