DPP APDESI

Skandal: Volume Pekerjaan SD Inpres Klabat Diduga Jauh di Bawah Pagu Anggaran Rp926 Juta, Dirjen Kemendikdasmen Diminta Sidak

Oplus_131072

Airmadidi, FajarManado.News — Proyek rehabilitasi SD Inpres Klabat, Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut) diduga kuat terjadi penyimpangan. Dana sebesar hampir menyentuh angka Rp.1 miliar hanya mengganti atap dan plafon tujuh ruang kelas.

Pelaksanaan program Revitalisasi Sekolah yang seharusnya menjadi momentum perbaikan mutu pendidikan, ditengarai bakal ternodai dengan pekerjaan rehabilitasi tersebut.

Anggaran proyek DAK Pendidikan tahun 2025 yang bernilai total Rp.926.934.344 ini, disinyalir kuat memiliki volume pekerjaan yang tidak sebanding dengan besaran dana yang dialokasikan.

Volume Minim, Kualitas Diragukan

Hasil investigasi lapangan yang dilakukan tim media ini pada Kamis, 27 November 2025 mengesankan anomali yang mencolok.

Dengan pagu anggaran hampir Rp1 Miliar, pekerjaan yang terealisasi pada tujuh ruang kelas SD Inpres Klabat dilaporkan hanya mencakup tiga item utama. Yakni, pemasangan plafon, penggantian rangka atap menggunakan baja ringan, dan pemasangan atap seng baru.

Dugaan kerugian negara semakin menguat setelah tim menemukan bahwa kualitas material yang digunakan terkesan rendah dan diragukan tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Berdasarkan analisis awal perhitungan kebutuhan konstruksi standar oleh para ahli bangunan, volume pekerjaan yang tampak  diperkirakan hanya menelan biaya sekitar Rp.250 juta.

“Sangat janggal. Jika dianalisis, anggaran sebesar itu seharusnya dapat mengcover rehabilitasi total atau bahkan pembangunan fasilitas baru. Ini hanya plafon dan atap tujuh kelas,” ujarnya. “Kemana selisih anggaran Rp600 jutaan itu menguap,” sambung sumber tim investigasi dengan nada tanya.

Kepsek Mengamini

Kecurigaan ini diperkuat oleh pengakuan Kepala Sekolah (Kepsek) SD Inpres Klabat, Femmy Iroth, saat ditemui wartawan di lokasi.

Ia membenarkan bahwa cakupan pekerjaan proyek tersebut memang sangat terbatas.

“Iya, yang hanya dikerjakan plafon, rangka atap, dan atap. Bangunan lain tidak, toilet lama juga tidak,” ungkap Femmy Iroth.

Pernyataan ini semakin menguatkan fakta ironis di lokasi. Di saat pekerjaan atap dan plafon menghabiskan dana ratusan juta, ditemukan bangunan lain, termasuk fasilitas sanitasi lama, yang dalam kondisi kumuh dan sangat membutuhkan perbaikan, namun luput dari pengerjaan yang dibiayai anggaran berbandrol Rp926 jutaan tersebut.

Saat dikonfirmasi ulang melalui telepon dan pesan WhatsApp terkait penerbitan berita ini, Kepsek Femmy Iroth tidak berkomentar sedikit pun.

Sidak dan Audit Menyeluruh

Mengingat transparansi dan akuntabilitas adalah prasyarat utama dalam program revitalisasi, Direktur Jenderal (Dirjen) Kemendikdasmen diminta segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) dan memerintahkan audit menyeluruh.

Masyarakat dan pegiat anti-korupsi dihimbau untuk mengambil peran, sejalan dengan imbauan resmi dari Kementerian.

Dalam portal resminya, Kemendikdasmen meminta publik mengawal pelaksanaan revitalisasi dan menyediakan Posko Pengaduan Inspektorat Jenderal bagi yang menemukan praktik kecurangan atau pungutan liar.

Kasus ini menjadi ujian penting bagi komitmen Kemendikbudristek dalam menjamin setiap rupiah anggaran pendidikan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa dan sekolah. Jika dugaan ini terbukti, aparat penegak hukum wajib mengusut tuntas aliran dana yang diduga raib.

 

[Lukhy]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *