DPP APDESI

Sikapi Konflik Antar Pemuda, GMKI Gelar Bacirita Orang Basudara

Ambon, Fajarmanado.com – Menyikapi konflik antar pemuda Air Salobar-Pohon Mangga pada akhir Februari yang lalu, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Maluku menggelar pertemuan Bacarita Orang Basudara, Rabu (10/3/2021).

Pertemuan yang digelar di Story Cafe ini menghadirkan tokoh pemuda dari kedua belah pihak, Camat Nusaniwe, tokoh agama, dan juga Bhabinkamtibmas di setempat.

Ketua DPD GAMKI, Heppy Lelapary menjelaskan kehadiran GAMKI di masyarakat untuk menjadi organisasi yang independen yang dapat membantu dan bersama-sama pemerintah maupun seluruh stakeholder dalam menciptakan keamanan bagi masyarakat.

“Jadi yang kami lakukan, bacarita orang basudara Salobar dan Pohon Mangga ini karena kami mempunyai kegelisahan. Kota Ambon dan daerah Maluku sudah harus terbebas dari gangguan-gangguan keamanan apa lagi di masyarakat,” katanya.

Bacirita Orang Barudata ini,  lanjutnya, adalah langkah yang  diambil untuk coba meredam dan menghentikan seluruh gejolak potensi konflik yang ada di masyarakat.

Heppy menjelaskan konflik besar yang pernah terjadi di Kota Ambon merupakan sesuatu yang sangat merugikan, sangat berdampak, dan sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan sosial masyarakat Kota Ambon.

“Atas pengalaman itulah GAMKI berusaha untuk sedapat mungkin bersama-sama dengan pemerintah maupun aparat keamanan saling bersinergi untuk menjaga Kota Ambon dan daerah Maluku tetap aman dan tidak ada dalam situasi-situasi yang dapat mengancam kamtibmas di Kota Ambon,” paparnya.

Dosen Unpatti ini juga menandaskan, mesti ada yang berperan untuk memediasi potensi-potensi konflik seperti ini sehingga GAMKI sebagai organisasi gereja, organisasi kemasyarakatan merasa bertanggung jawab secara moral untuk mengambil peran memediasi dan memfasilitasi masyarakat ketika ada dalam perbedaan dan berpotensi konflik.

“Kejadian beberapa waktu lalu itu sangat mengganggu dan menggelisahkan kami sebagai organisasi dan kami mengambil langkah untuk mencoba memediasi di hari ini,” ujarnya.

“Untuk itu kami mengundang seluruh tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pimpinan Kecamatan Kelurahan, TNI-Polri, tokoh agama, pendeta para imam untuk kita coba duduk bacarita orang basudara untuk membicarakan segala sesuatu sehingga kota ini tetap menjadi Ambon Manise,” lanjut Heppy.

Jika terjadi konflik seperti ini lagi, ia berharap sudah ada yang berani keluar untuk mencoba memediasi.

Heppy menambahkan, masalah keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat TNI-Polri semata, namun juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat di kota ini.

Penulis: Katie Mailoa